Senin, 29 Mei 2017

Jelajah Alam di Kabupaten Ciamis-1

Banyak tempat wisata menarik di Kabupaten Ciamis baik sebagai rekreasi keluarga maupun rekreasi petualangan (adventure). Tempat wisata di Kabupaten Ciamis pada umumnya adalah wisata alam bernuansa pegunungan dan perairan seperti situ dan sungai. Semua wilayah kecamatan di Kabupaten Ciamis mempunyai daya tarik tersendiri sehingga oleh masyarakat dijadikan tempat rekreasi lokal.

KABUPATEN CIAMIS
Kabupaten Ciamis terletak di ujung timur Provinsi Jawa Barat dan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah sekitar lainnya adalah Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran. Letak Kabupaten Ciamis strategis karena dilintasi jalan nasional dari arah Bandung menuju Jawa Tengah.
Ibukota Kabupaten Ciamis adalah Ciamis yang letaknya mudah dijangkau yaitu dari arah Kuningan - Cirebon melewati jalur Panawangan - Kawali, dari arah Tasikmalaya - Bandung serta dari arah Pangandaran dan arah Jawa Tengah  yang melewati Kota Banjar. Pariwisata Kabupaten Ciamis setelah berpisah dari Pangandaran hanya mengandalkan panorama pegunungan dan tempat rekreasi buatan. Meskipun kehilangan Pangandaran, berwisata ke Kabupaten Ciamis tetaplah menarik.

Selain wisata alamnya, Ciamis juga tidak kalah menyediakan wisata kuliner meskipun terbatas. Restoran sunda pada umumnya mempunyai akar sejarah dari wilayah Ciamis. Termasuk Rumah Makan Ampera yang terkenal dan sudah memiliki banyak cabang. Apabila kita menuju Ciamis dari arah Bandung kita akan melewati jalan raya Cihaurbeuti yang terdapat rumah makan sunda yang enak - enak. Silahkan pilih sendiri, karena selera orang berbeda. Makanan oleh - oleh khas Ciamis yang menjadi ikon adalah galendo (terbuat dari sari kelapa), rengginang, sale (selai) pisang, gula aren, gula kelapa dan abon sapi.Selain itu juga terdapat sentra makanan ringan di wilayah Kecamatan Cikoneng
Untuk kerajinan tangan memang kalah jauh dibandingkan Tasikmalaya. Batik khas Ciamis meskipun ada tapi sudah tidak bersinar karena kalah pamor dengan batik Tasik. Sisa peninggalan produksi batik berada di wilayah Imbanegara.

1.    Situ Lengkong Panjalu
Rasanya, kalo berwisata ke Ciamis tanpa ke Panjalu akan kurang lengkap. Karena itu umumnya pengunjung luar Ciamis akan berusaha datang ke tempat ini. Yang menjadi daya tarik dari Panjalu adalah Situ Lengkong yaitu danau yang luasnya sekitar 67 hektar.
Di tengah danau terdapat pulau yang disebut Nusa Gede atau disebut juga Pulau Koorders dengan luas 16 Ha. Pulau Koorders juga merupakan Cagar Alam Koorders Panjalu yang telah ditetapkan sejak tahun 1919. Apabila sore hari pemandangan di pulau dihiasi oleh kehadiran banyak kelelawar yang bersileweran. Di dalam pulau terdapat kompleks makam dimana yang utama adalah makam Prabu Harian Kencana atau disebut juga mbah Panjalu. Namun sebelum masuk pulau kita akan disambut oleh patung macan di depan tangga masuk. Selanjutnya kita akan menaiki tangga dengan jumlah ratusan yang cukup terjal untuk sampai ke kompleks pemakaman.


Perairan situ cukup dan dalam sehingga pengunjung tidak dapat berenang di situ. Kecuali di bagian  yang dekat dengan pemukiman penduduk dimana terdapat endapan sehingga cukup dangkal. Pengunjung dapat berwisata dengan perahu dan sepeda air. Pemandangan sekitar yang indah ditambah udara yang sejuk dan dingin sangat pas untuk berekreasi air. Di sekitar tempat wisata banyak terdapat kios cindera mata dan makanan minuman. Harga barang dan makanan minuman masih sangat terjangkau sehingga tidak perlu khawatir kalau tidak membawa bekal. Di samping itu tempat parkir cukup luas termasuk khusus untuk bis ditambah lagi dengan taman sekitar tempat parkir menambah kenyamanan.



Situ Lengkong menjadi daya tarik wisata alam sekaligus wisata religi. Berbondong – bondong orang datang ke makam Prabu Harian Kencana, salah seorang raja dari Kerajaan Panjalu. Paling banyak kedatangan peziarah pada bulan Mulud dan Rajab. Bagi sebagian orang, ziarah ke Panjalu merupakan satu rangkaian ziarah ke Pamijahan dan Sunan Gunung Jati. Umumnya ziarah ke Panjalu adalah antara sebelum ke Pamijahan atau ke Cirebon.
Jalan menuju Panjalu dapat dari arah Ciamis atau Tasikmalaya ke Cihaurbeuti – Panumbangan – Panjalu. Atau dari arah Bandung masuk melalui Pamoyanan hingga bertemu simpang tiga ke arah Panjalu. Sedangkan dari arah Cirebon dapat masuk melalui Kawali. Pengunjung tidak perlu khawatir tersesat karena petunjuk jalan cukup jelas. Jalan ke arah Panjalu beraspal cukup baik meskipun agak sempit.

Di dekat situ terdapat museum Panjalu atau Bumi Alit yang menyimpan benda – benda pusaka peninggalan kerajaan Panjalu dan benda – benda prasejarah seperti menhir. Pada bulan Mulud diadakan acara Nyangku oleh penduduk setempat, yaitu mensucikan benda – benda pusaka yang disimpan di museum Panjalu.

2.    Situs sejarah Karang Kamulyan
Nama resmi tempat wisata ini adalah Situs Ciung Wanara Karang Kamulyan. Situs sejarah Karang Kamulyan sangat jelas keberadaannya karena terletak di jalan nasional lintas selatan yaitu setelah kota Ciamis dan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Cijeungjing, Desa Karang Kamulyan. Tempat wisata ini seperti kebun raya layaknya karena sangat lebat dengan pepohonan. Tempat parkir luas dan nyaman serta banyak warung – warung makanan minuman dan suvenir membuat tempat wisata ini menjadi alternatif rest area.


Begitu kita masuk ke dalam, suasana teduh dan sejuk langsung terasa karena rindangnya pepohonan yang tumbuh alami. Situs ini dijadikan hutan kota berdasarkan SK Bupati Ciamis tahun 2007 dengan luas 25 Ha.Nuansanya seperti kebun raya karena terdapat terdapat puluhan jenis flora pohon mahoni, kiara, kenanga, bencoy, bungur, johar, rotan, dan sebagainya. Sedangkan satwa yang ada berdasarkan papan informasi adalah monyet ekor panjang, lutung, musang, biawak, ular sanca, ular weling, ular kobra, trenggiling, dan lain - lain. Monyet ekor  panjang paling dominan termasuk banyak berkeliaran di sekitar tempat parkir. Apabila hendak masuk ke dalam situs membawa makanan sangat disarankan menyewa pawang. Bila tidak akan diganggu bahkan tidak segan - segan akan merebut makanan termasuk tas. Selain hutan kota dan situs purbakala, di situs ini juga terdapat gong perdamaian dan musium yang berisikan benda - benda purbakala dan barang kesenian. Fasilitas berupa tempat parkir yang luas, warung – warung kecil yang menyediakan makanan sederhana dengan harga murah dan masjid, menjadikan tempat ini sangat nyaman untuk beristirahat. Karena itu mengunjungi Karang Kamulyan mendapat wisata alam dan wisata sejarah (pengetahuan) serta tempat istirahat (rest area).


Situs Karang Kamulyan dahulunya merupakan pusat dari kerajaan Galuh Karang Kamulyan yang bercorak agama Hindu-Budha. Yang menarik dari situs  ini adalah cerita atau legenda Ciung Wanara yang sangat terkenal di tataran Sunda. Luas kawasan sekitar 25 Ha, menyimpan berbagai peninggalan  yang dianggap sebagai situs sejarah sekaligus tempat yang disakralkan. Peninggalan sejarah yang ada di dalam situs ini adalah undakan batuan berwarna putih dan persegi empat. Bentuk ini sesungguhnya adalah yoni yang letaknya terbalik dan digunakan sebagai tempat pemujaan dan altar. Selain itu juga terdapat tumpukan batu mirip dolmen (kuburan batu) dan menhir atau tugu batu.
Tempat – tempat  yang menjadi daya tarik wisatawan di dalam Karang Kamulyan adalah :
a.    Pangcalikan. Merupakan tempat pemujaan yang dikelilingi tumpukan batu dengan keliling segi empat. Dari asal kata bahasa Sunda, yang berarti tempat duduk, maka tempat itu dipercaya sebagai tempat singgasana Raja Galuh. Lokasi ini berada paling depan setelah masuk pintu gerbang.

b.    Sanghyang Bedil. Diperkirakan situs ini merupakan sejenis ruangan yang di dalamnya terdapat dua menhir sebagai peninggalan sejarah megalitik. Kemungkinan saat masa prasejarah dijadikan tempat bermeditasi. Sedangkan pada masa Kerajaan Galuh dijadikan tempat gudang senjata.

c.    Penyabungan ayam. Letaknya sekitar 5 m dari ruang Sanghyang Bedil. Tempat tersebut adalah tempat menyabung ayam tokoh Ciung Wanara dan juga sebagai tempat pemilihan raja Kerajaan Galuh. Di dalam situs ini terdapat sebatang pohon yang dianggap sakral. Seperti halnya pohon beringin di alun – alun keraton Yogya, pohon ini juga memiliki magis tertentu. Pengunjung apabila mencoba berjalan dengan mata tertutup ke arah pohon tidak akan pernah sampai.

d.    Batu kemuncak. Batu yang merupakan lambang peribadatan, merupakan peninggalan masa Hindu yang kemungkinan adalah pada masa Kerajaan Galuh. Bentuk batu tersebut seperti stupa dengan pahatan – pahatan sederhana. Di sekelilingnya terdapat susunan batu menyerupai dinding yang merupakan peninggalan masa megalitik.
e.    Penyandaran. Terdiri atas menhir dan dolmein yang dikelilingi oleh struktur batu menyerupai tembok. Tempat ini dianggap sebagai tempat kelahiran tokoh Ciung Wanara. Setelah Dewi Naganingrum melahirkan Ciung Wanara, kemudian beristirahat dengan bersandar di tempat itu untuk memulihkan tenaga selama 40 hari.

f.     Cikahuripan. Merupakan sumur tua yang dekat dengan sungai Citanduy dan Cimuntur. Sumur ini tidak pernah kering sepanjang musim sehinggabanyak orang yang mempercayai sebagai tempat suci yang airnya memiliki khasiat.

g.    Makam Adipati Panaekan. Merupakan susunan batu berbentuk lingkaran yang bersusun tiga. Tempat ini dipercaya sebagai makam Adipati Panaekan yaitu raja Galuh Gara Tengah yang mendapat gelar adipati dari Sultan Agung Mataram. Arah makam ini menghadap kiblat dan tanda makam berbentuk nisan sehingga kemungkinan besar raja ini telah memeluk agama Islam. Meskipun demikian, makam ini mempunyai corak megalitik yaitu dengan kepunden bertingkat tiga.

h.    Pamangkonan. Terdapat benda seperti stupa yang hampir mirip dengan benda kemuncak di Lambang Peribadatan. Benda tersebut juga mirip dengan gada. Kemungkinan lokasi ini adalah tempat penyeleksian prajurit yaitu dengan menguji pelamar untuk mengangkat gada yang sangat berat bagi orang awam. Batu itu diberi julukan dengan Sanghiyang Indit - Inditan artinya batu yang sering berpindah - pindah menurut kepercayaan sebagian orang.

i.      Patimuan. Merupakan delta sungai tempat bertemunya Sungai Citanduy yang dangkal, berbatu dan bersih dengan Sungai Cimuntur yang dalam, berlumpur dan lebih keruh. Tidak terdapat peninggalan arkeologis. Mitos masyarakat tempat ini adalah tempat dimana ditemukannya bayi Ciung Wanara oleh Aki Balangantrang.

j.      Sipatahunan.
k.    Jalan kuno


3.    Situs sejarah Astana Gede
Situs ini berada di wilayah Kecamatan Kawali. Tidak susah mencarinya. Untuk menuju Kawali dapat dijangkau dari jalur Kuningan – Ciamis atau dari arah Panjalu. Selanjutnya di pusat kota kecamatan akan kita jumpai papan petunjuk arah ditambah dengan keterangan penduduk setempat. Kurang lebih 4 km dari kota Kawali jalan menuju lokasi. Jalan menuju ke lokasi berupa aspal dengan kondisi baik.


Luas situs Astana Gede sekitar 5 Ha yang dilengkapi dengan sarana parkir yang cukup luas. Sedangkan kondisi di dalam banyak pepohonan langka yang besar dan rindang sehingga memberi suasana nyaman dan sejuk. Peninggalan purbakala yang terdapat dalam situs ini adalah :
a.      Prasasti purbakala berjumlah 6
b.      Lokasi penobatan raja - raja Kawali
c.       Cikawali. Tempat suci keluarga keraton termasuk Putri Diah Pitaloka
d.      Sanghiang Maya Datar. Tempat raja memberikan petuah kepada rakyatnya


Keberadaan situs ini tidak terlepas dari peninggalan sejarah yang ada antara lain berupa undakan batuan, menhir, dolmein serta lingga dan yoni yang merupakan peninggalan prasejarah. Selain itu di dalam situs ini terdapat makam keturunan raja, prasastidan tempat – tempat pertapaan.Tetapi yang paling menarik dari makam raja – raja Galuh adalah makam Prabu Linggabuwana dan Putri Diah Pitaloka yang gugur pada peristiwa Bubat. Para ahli purbakala percaya bahwa situs Astana Gede juga adalah tempat suci Kerajaan Galuh. Namun setelah perjalanan waktu sebagian keturunan kerajaan Galuh Kawali masuk agama Islam dan dimakamkan di situs Astana Gede. Dengan demikian di dalam situs tersebut terdapat 3 kebudayaan yaitu kebudayaan prasejarah, Hindu dan Islam.

4.    Situs Tambaksari
Situs sejarah ini kurang terkenal dibandingkan dengan situs sejarah lainnya. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa situs ini adalah salah satu situs purbakala dimana manusia – manusia purba pernah tinggal. Letak lokasi situs ini berada di Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari. Akses menuju lokasi ini adalah dari jalur selatan Ciamis – Banjar kita akan bertemu pertigaan Cisaga dan masuk ke arah Rancah. Selanjutnya kita masuk pertigaan menuju Kecamatan Tambaksari lalu jalan terus ke arah Desa Tambaksari. Jalanan cukup baik tetapi sempit sehingga kurang leluasa untuk memacu kendaraan.

Kawasan situs Tambaksari secara keseluruhan meliputi beberapa desa di Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Rancah yang luasnya sekitar ± 961,369 ha. Kondisi geomorfologi kawasan situs berupa perbukitan yang bergelombang dengan kemiringan lereng beragam dan sebagian lagi berlembah-lembah yang dilalui sungai Cijolang dengan beberapa anak sungai seperti Cihonje, Cipasang, Cisanca, Cibatu, Cisontrol, dan Cibeureum. Berdasarkan keterangan kawasan situs ini merupakan kawasan yang mengandung tinggalan geologi kuarter yang berumur Pliosen tengah (2 juta tahun yang lalu).
Sayang sekali lokasi situs kurang terawat. Terdapat museum mini purbakala yang menampilkan berbagai fosil dan temuan – temuan purbakala. Museum ini dijaga oleh petugas khusus yang tidak setiap saat ada di tempat. Apabila hendak masuk ke dalam kita harus memanggil petugas tersebut yang rumahnya agak jauh dari lokasi.
Temuan purbakala yang ada dalam situs ini adalah fosil dan barang – barang perkakas. Fosil yang ada adalah fosil flora purba, manusia purba dan berbagai fauna purba seperti rusa, buaya, gajah, badak, kuda nil dan kura – kura purba. Jangan bayangkan fosil tersebut berbentuk utuh melainkan hanya potongan – potongan tulang  yang setelah diselidiki oleh para ahli adalah bagian dari makhluk – makhluk tersebut di atas.

5.    Situs Kertabumi
Terletak di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing tepatnya berada di Dusun Bunder. Kawasan Kertabumi mencakup dua situs yaitu situs Gunung Susuru dan situs Bojong Gandu. Dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, dengan wilayah kerja Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung. Akses masuk Situs Kertabumi adalah melalui pasar Bojongmengger, tidak jauh dari kota Ciamis. Kondisi jalan berupa aspal mulus meskipun relatif sempit. Kurang lebih sekitar 5 km akan bertemu simpang tiga yang menuju Dusun Bunder. Selanjutnya kita masuk ke arah Dusun Bunder dengan kondisi jalan aspal yang tidak semulus sebelumnya.


Dibandingkan dengan situs Bojong Gandu, situs Gunung Susuru jauh lebih bagus dan lebih populer. Situs Gunung Susuru berada pada kawasan perbukitan yang dibawahnya diapit oleh Sungai Cileueur dan Sungai Cimuntur. Kedua sungai tersebut bertemu di sebelah timur laut Gunung Susuru. Untuk memperindah situs Gunung Susuru sudah dilakukan penambahan fasilitas wisata sehingga sudah tepat dijadikan destinasi wisata yang layak dikunjungi. Penambahan tersebut berupa pintu gerbang lokasi, areal parkir, tangga dan jalan trekking yang menghubungkan antar situs purbakala yang berplester semen. Selain itu terdapat taman serta pagar keliling pada situs purbakala. Pengunjung seharusnya tidak boleh masuk ke dalam situs purbakala karena berpotensi merusak fisik batuan.
Di bukit lokasi situs terhampar rumput taman dan pohon – pohon jati dengan penataan sedemikian rupa sehingga cukup nyaman untuk beristirahat. Belum lagi pemandangan Sungai Cileueur dan Sungai Cimuntur di bawahnya dengan pemandangan alamnya sangat menawan untuk melakukan pengambilan foto. Udara yang segar sejuk membuat suasana sangat nyaman. Sangat cocok untuk botram (makan bersama di alam terbuka) bersama teman atau keluarga.


Situs Gunung Susuru memiliki empat situs utama purbakala yang merupakan punden berundak dengan batuan berasal dari bahan beku andesit. Keempat situs tersebut adalah lokasi Batu Patapan I hingga Patapan IV. Tempat tersebut dipercaya sebagai tempat pemujaan pada masa pra sejarah. Situs Batu Patapan I adalah yang paling besar. Belum ada keterangan mengenai umur manusia pra sejarah termasuk perkiraan tahun situs ini berada.
Selain situs purbakala pada tebing Gunung Susuru terdapat 5 gua terbentuk dari batuan breksi vulkanik. Dilihat dari kondisi fisiknya, gua-gua tersebut merupakan gua buatan (artificial caves) pada masa purbakala yang dibuat pada tebing di tepi Sungai Cimuntur dan Cileueur dengan lereng  yang cukup curam. Menurut penuturan penduduk, di dalam gua pernah ditemukan pecahan tembikar, gigi Bovidae (kerbau purba), gigi Sus (babi purba), fragmen tulang, dan geraham manusia. Fragmen tulang dan gigi yang ditemukan di lokasi tersebut sudah mengalami proses pemfosilan (sub-fosil).


Selain situs purbakala dan gua, terdapat juga curug. Jalan ke arah curug tersebut adalah dengan menelusuri jalan setapak hingga batas akhir yaitu di situs Batu Patapan III. Selanjutnya kita menyesuri jalan penduduk di antara semak belukar dengan medan menurun yang cukup curam. Setelah bertemu dengan sungai kita ke arah kanan, menyusuri sungai dengan melawan arus. Hanya dekat saja hingga kita bertemu dengan curug yang dimaksud, tetapi letaknya di seberang sungai. Curug tersebut agak tersembunyi di antara rerimbunan pohon dan bambu. Tetapi kita masih cukup baik melihatnya.
Airnya cukup jernih dan langsung mengalir ke sungai. Kalau air agak surut kita dapat menyeberang ke curug dan mandi di bawah pancurannya. Ketinggian curug sekitar 25 m dengan pancuran airnya lumayan deras. Belum ada nama untuk curug tersebut, namun karena letaknya di Desa Kertabumi maka dapat dinamakan Curug Kertabumi. Yang jelas pemandangan sekitar curug cukup indah dan juga daerah bebatuan menuju arah curug.


Situs Bojong Gandu berada di bagian bawah, tepatnya sebelah barat laut situs Gunung Susuru. Keadaan lahan di situs Bojong Gandu relatif datar. Tinggalan arkeologi di situs Bojong Gandu berupa sisa benteng yang terbuat dari susunan batu. Di situs Bojong Gandu banyak ditemukan fragmen keramik, fragmen tembikar, dan kerak besi. Fragmen keramik berasal dari Cina, Thailand, Vietnam, dan Eropa terbanyak berasal dari Cina masa dinasti Ming dan Qing.Di Dusun Bunder terdapat beberapa objek arkeologis yaitu sumur taman, sumur batu, dan beberapa makam kuno. Sumur taman adalah dua sumur yang berada di pinggiran tebing batuan breksi. Di seberang sungai (sisi timur) terdapat sumur batu. Sumur tersebut berupa bongkah batuan beku yang dilubangi. Lubang berada di sisi selatan dengan diameter lubang 50 cm. Berdasarkan hasil identifikasi objek, yang disebut sumur oleh masyarakat ternyata adalah lumpang batu. Makam kuna yang ada di Dusun Bunder dikenal dengan sebutan Makam Tanduran Ageung atau Tanduran Sari dan Komplek Makam Prabu Dimuntur.

6.    Kampung adat Kuta
Di Jawa Barat dan Banten terdapat sejumlah desa adat terkenal seperti Baduy, Kampung Naga, Kampung Dayak Indramayu, Kampung Adat Cangkuang dan satu lagi di Kabupaten Ciamis adalah Kampung Kuta.Lokasi Kampung Kuta terletak di Desa Karang Paningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Akses menuju kampung tersebut adalah dari jalan raya Ciamis masuk di pertigaan Kecamatan Cisaga. Kemudian terus ke arah jalan Kecamatan Rancah hingga bertemu pertigaan jalan Kecamatan Tambaksari. Selanjutnya jalan ke arah Tambaksari hingga sampai lokasi. Sebaiknya banyak bertanya ke penduduk setempat mengingat lokasi yang dimaksud berada di daerah pedalaman.

Jalan menuju kampung adat berupa aspal yang tidak begitu bagus dan sempit. Di perbatasan Kampung Kuta terdapat gapura sederhana terbuat dari batang pohon kelapa dan atap rumbia memberi kesan tradisional. Medan perjalanan terus menurun hingga lokasi kampung. Sepanjang jalan kita akan melewati rumah – rumah tradisional seperti sebuah perkampungan pada masa lalu.Terdapat beberapa rumah modern di antara dominasi rumah – rumah tradisional.
Akhirnya kita sampai pada pusat perkampungan adat. Parkir kendaraan baik roda 4 maupun roda 2 pada area yang khusus disediakan. Di pusat perkampungan adat terdapat, pondok kalpataru, pondok informasi dan pondok istirahat berbentuk lingkaran. Akses menuju tempat – tempat tertentu seperti hutan adat, talaga dan bukit kramat harus melalui gerbang tertentu dan kita diminta menyumbang ala kadarnya. Apabila kita memerlukan informasi lebih dalam sambil menemani perjalanan, kita dapat menyewa kuncen atau orang yang ditunjuk. Jadi fungsi kuncen jangan dilihat dari sisi paranormalnya tetapi lebih kepada informasi seluk beluk wilayah tersebut.


Nama Kuta mungkin terasa asing di daerah tataran sunda. Tentunya berbeda dengan nama Kuta yang berasal dari Bali. Nama ini berasal dari kata Mahkuta karena dahulunya sempat akan dijadikan Kerajaan Galuh yaitu pada masa Prabu Permanadikusuma. Konon sebagian perangkat kebesaran istana sempat dibawa ke tempat ini.
Luas wilayah kesatuan adat Kampung Kuta ± 185 Ha. Di dalam wilayah tersebut terdiri dari beragam penggunaan seperti hutan, tanah pertanian dan kampung. Bagian – bagian penting di wilayah Kampung Kuta adalah :
1.     Leuweung Gede
2.     Batu Patanggeuh-tanggeuh
3.     Gunung Bonghas
4.     Gunung Rompe
5.     Batu Kacapi
6.     Gunung Kipamali
7.     Gunung Dodokan
8.     Gunung Pakayuan
9.     Gunung Padarinan
10.  Batu Goong
11.  Gunung Barang
12.  Gunung Ajug
13.  Ranca Sigung
14.  Panggeleseran
15.  Gunung Ciasihan
16.  Lemah Museur
17.  Gunung Wayang
18.  Gunung Semen
19.  Gunung Pandai Domas
20.  Gunung Tahanan
21.  Cai Panyipuhan
22.  Cai Cinangka
23.  Gunung Gebang
Leuweung Gede merupakan bagian terpenting karena merupakan tempat yang akan dijadikan pusat kerajaan Galuh tetapi tidak jadi. Meskipun demikian oleh masyarakat adat Leuweung Gede dijadikan leuweung kramat atau hutan keramat. Banyak orang yang mencari nilai – nilai spiritual di dalam hutan yang dikeramatkan tersebut. Gunung yang terdapat di dalam leuweung kramat sesungguhnya adalah bukit dan dipercaya mempunyai nilai keramat.
Sumber foto: https://sportourism.id/heritage/ritual-nyuguh-di-kampung-adat-kuta 

7.    Icakan
Ciamis tidak mau kalah dengan kota – kota besar dengan menampilkan Icakan sebagai tempat rekreasi alternatif  yang modern. Letak tempat ini berada di jalur jalan Ciamis Kawali Kuningan dengan jarak sekitar 10 Km. Akses masuk dapat melalui 2  jalan. Akses jalan yang terjauh adalah sekitar 6 km mengitari punggung bukit tetapi dengan suguhan pemandangan yang asri dan segar. Jalan masuk berupa jalan aspal bagus yang sudah tertata. Letak lokasi di Kampung Cikacang, Desa Sukamulya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.



Di pintu gerbang masuk Icakan telah disediakan tempat parkir yang memadai baik untuk roda 4 maupun roda 2. Harga karcis masuk cukup terjangkau yaitu Rp. 15.000 per orang. Setelah masuk ke dalam areal rekreasi kita akan disuguhi pemandangan alam buatan yang cukup indah dan asri. Bagian – bagian rekreasi yang terdapat di dalam adalah :
-          Danau buatan dengan wahana sepeda air
-          Water boom dan kolam ombak
-          Taman
-          Kereta wisata
-          Flying fox
-          Cinema 3D
-          Masjid
-          Pusat jajanan
Penataan elemen – elemen rekreasi cukup artistik yang memanjakan mata untuk memandang. Sehingga kita selain dapat beristirahat dengan nyaman juga mendapat pemandangan yang indah. Untuk dapat menggunakan wahana rekreasi kita harus membayar lagi di loket yang tersedia.

8.    Alun – alun kota Ciamis dan Kawali
Meskipun Ciamis kota kecil namun mempunyai kekhasan yaitu alun – alun kota  yang cukup indah dan diberi nama Taman Raflesia. Pemberian nama itu karena di tengah taman didirikan replika bunga raflesia yang terlihat megah. Selain itu penataan ruang taman cukup indah dan nyaman untuk bersantai dengan hamparan rumput dan tanaman – tanaman hias. Dengan konsep taman kota modern, Taman Raflesia menjadi titik perhatian tersendiri bagi masyarakat Ciamis.



Di taman ini terdapat juga berbagai wahana anak – anak seperti becak cinta (nama untuk modifikasi wahana kayuh berlampu hias) pada malam hari dan delma domba pada siang hari. Kehadiran wahana tersebut tidak banyak mengganggu pengunjung yang ingin santai karena hanya pada tempat tertentu saja wahana tersebut dioperasikan. Bahkan kehadiran wahana tersebut memberi kesan keragaman aktivitas taman yang hangat dan bersahabat dengan pengunjung.
Dekat dengan taman kota terdapat masjid agung dan pendopo bupati Ciamis. Masjid agung Ciamis cukup megah dan indah. Arsitekturnya seperti umumnya masjid tetapi kehadirannya dekat dengan taman kota memberi kesan damai dan nyaman. Pada malam minggu atau malam liburan taman ini ramai dengan pengunjung. Taman Raflesia jadi seperti berhias cahaya oleh pernik – pernik lampu hias. Kehadiran pengunjung  yang cukup banyak memberi kesan hangat dan nyaman. Banyak jajanan tradisional di sekitar taman yang dapat menjawab kebutuhan perut dan tenggorokan untuk makan dan minum. Malam tahun baru menjadi titik utama perayaan dan berlangsung sangat meriah.

Seolah tidak mau kalah dengan pusat ibukota, kecamatan Kawali turut berbenah dan hasilnya adalah taman atau alun – alun kecamatan. Penataan taman juga dengan gaya modern sehingga memberi daya tarik untuk berkunjung dan bersantai. Waktu sore hari terutama sabtu minggu serta hari libur yang paling ramai karena masyarakat sekitar memanfaatkan untuk bersantai.

9.    Jembatan Cirahong
Pernah melihat jembatan kereta api yang merentang di atas sungai atau jurang tanpa pembatas? Mungkin bisa kita jumpai di beberapa tempat seperti pada jalur Padalarang atau jalur lainnya di Jawa Tengah. Tetapi hanya di Ciamis dimana sebuah jembatan kereta berada di atas lintasan kendaraan. Ya, jembatan itu digunakan untuk kereta api dan persis di bawahnya untuk kendaraan. Pemandangan yang unik dan sekali lagi hanya terdapat di Ciamis. Bila saat jadwal kedatangan kereta api dimungkinkan kendaraan melintas dan pada saat bersamaan kereta api melintas. Sungguh pemandangan tersendiri terlebih lagi sekelilingnya masih alami.Jembatan Cirahong itu sendiri melintang di atas sungai dan jurang dengan ketinggian seratus meter lebih sehingga benar – benar suatu pemandangan yang luar biasa indah.



Untuk menjangkau ke tempat tersebut dapat melalui Manonjaya kemudian masuk jalan ke arah Ciamis. Selain itu dapat juga dari  jalan raya Ciamis yaitu jalan masuk ke arah Manonjaya tepatnya di samping SPBU Kecamatan Imbanegara. Jalannya lumayan bagus meskipun tidak begitu lebar cukup untuk berpapasan 2 kendaraan. Di tengah perjalanan kita akan menjumpai tempat penjualan buah – buahan tentunya dengan buah salak Manonjaya yang menjadi andalan.

10.    Stadion Galuh dan Venue BMX


Prestasi kesebelasan PSGC (Persatuan Sepakbola Galuh Ciamis)mulai diakui, bahkan di Jawa Barat menjadi pelapis Kesebelasan Persib. Salah satu faktor yang memajukan prestasi kesebelasan PSGC adalah hadirnya stadion yang cukup berkelas yaitu Stadion Galuh Ciamis. Stadion yang cukup representatif ini memiliki lapangan rumput yang tebal dan lintasan lari terpelihara. Tempat ini cukup sering menyelenggarakan berbagai even olahraga tentunya yang utama adalah sepakbola.


Selain stadion sepakbola, Ciamis mempunyai sarana olahraga yang patut dibanggakan yaitu Venue BMX. Tempat olahraga ini bahkan dipilih menjadi tempat penyelenggaraan lomba sepeda BMX pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke 19 tahun 2016. Sarana olahraga yang masih baru dan terlihat lumayan mentereng dijadikan tempat tujuan masyarakat lokal untuk bersantai. Di seberangnya terdapat taman kota dan rencana hutan kota. Jalan lingkungan yang cukup bagus, tempat parkir kendaraan yang cukup luas dan suasana sekitar yang asri, memadai untuk tempat tujuan bersantai.

11.    Curug Cibolang (Curug Tujuh)
Nama resmi curug ini adalah Curug Cibolang yang dinisbahkan untuk salah satu curug  yaitu curug keempat dan letaknya berada di Bukit Cibolang. Sedangkan Curug Tujuh karena terdapat lebih dari 1 tepatnya ada 7 curug.Nama – nama curug seluruhnya adalah Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Empat (Curug Cibolang), Curug Lima (Curug Cimantaja), Curug Enam (Curug Cileutik) dan Curug Tujuh (Curug Cibuluh).

Lokasi curug ini berada dalam kawasan hutan yaitu di bawah RPH Panjalu, BKPH Ciamis, KPH Ciamis. Tempat ini dikenal dengan bumi perkemahan Cibolang. Luas seluruhnya 20 Ha yang berada di antara Bukit Ciparang dan Bukit Cibolang yang merupakan kaki Gunung Sawal. Berada di ketinggian 800 – 900 m d.p.l, memberikan udara dingin sejuk. Secara administratif Curug Cibolang berada di dalam wilayah Desa Sanding Taman, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Akses menuju lokasi ini adalah dari jalan Panjalu – Cirebon. Apabila dari arah Bandung dapat melalui jalur Pamoyanan, sebelum Ciawi yang setelah mengikuti jalur ini akan betemu dengan jalur Panjalu – Cirebon. Sedangkan dari Tasikmalaya dan Ciamis masuk melalui jalur Cihaurbeuti – Panumbangan dan kemudian bertemu jalur Panjalu – Cirebon. Selanjutnya kita akan sampai di jalan masuk menuju lokasi yang dicirikan dengan plang seng yang sudah kusam. Jalan menuju curug sempit dan menanjak cukup curam dengan kondisi aspal kurang baik. Oleh karena itu sangat disarankan menggunakan kendaraan yang sehat dan cukup kuat menanjak.


Curug pertama merupakan curug terbesar mempunyai ketinggian sekitar 60 m dan dengan 2 tingkat. Air yang tercurah cukup deras jatuh pada tebing yang agak menjorok dan kemudian seperti merosot sehingga membuat tampak indah dilihat. Air jatuh yang terakhir pada kolam yang cukup dangkal sehingga pengunjung banyak yang bermain – main disana. Rasakan kesegaran air terjun yang lumayan dingin jatuh ke tubuh kita. Benar – benar sensasi kesegaran yang tidak didapatkan bagi yang tinggal di perkotaan. Pada musim kemarau debit air berkurang drastis sehngga terasa kurang puas untuk bermain air.
Curug Dua berjarak 1 km dari Curug Satu dengan jalan yang lumayan terjal dan tersamar dengan rimbunnya semak belukar. Selanjutnya kita berjalan  lagi hingga bertemu dengan Curug Empat (Curug Cibolang). Curug ini memiliki ketinggian sekitar 50 m yang bentuknya berupa curug kembar. Curahan airya tidak sederas Curug Satu tetapi tetap menawan. Kolam yang berada di bawah curug dangkal sehingga hanya untuk mandi di bawah pancuran air.
Selepas curug ini terdapat dua pilihan yaitu Curug Tiga yang berada di atas Curug Empat atau Curug Lima yang berada di bawahnya. Curug Tiga mempunyai ketinggian cukup lumayan yaitu sekitar 60 m dan aliran air yang deras. Demikian halnya Curug Lima yang tinggi menjulang sekitar 80 m dan juga memiliki aliran air yang deras. Sekitar Curug Lima berupa pepohonan dan semak belukar yang lebat.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju Curug Enam dan Curug Tujuh. Curug Enam lebih rendah dari sebelumnya yaitu sekitar 30 m tetapi tetap memiliki aliran air yang deras. Curug Enam memiliki bentuk unik yaitu berliku seperti huruf S. Curug Tujuh memiliki ketinggian paling rendah yaitu sekitar 10 m. Letak Curug Tujuh berada di bawah Curug Enam. Pengunjung perlu hati – hati untuk menuju dua curug terakhir ini karena sangat terjal dan licin.

12.    Curug Cipataunan
Tidak banyak orang tahu bahwa di perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Pangandaran terdapat curug yang cukup memikat. Terletak di Desa Ciampanan, Kecamatan Cidolok, Kabupaten Ciamis. Curug Cipataunan belum mendapat sentuhan infrastruktur yang memadai. Untuk menuju kesana bisa ditempuh melalui jalur Cineam – Cidolok – Cimaragas.  Setiba di Desa Ciampanan akan kita jumpai plang sederhana yang menunjukkan arah letak curug. Jalan dari simpang Desa Ciampanan menyempit berupa jalan semen.


Curug Cipataunan sesungguhnya terbagi menjadi 2 bagian yang jaraknya berdekatan. Satu curug warna airnya keruh karena erosi tanah sedangkan satu lagi cukup jernih. Ketinggian curug sekitar 60 m. Aliran curug yang jernih lebih deras dan jatuh ke sebuah tonjolan batu besar kemudian jatuh ke dasar curug. Sedangkan aliran curug yang keruh langsung jatuh dari  ketinggiannya. Di bagian curug yang jernih kita dapat bermain – main air dan mandi. Hanya sayang daerah sekitar curug bercampur lumpur sehingga kaki akan kotor setelah mandi.

Sebelum sampai di Curug Cipataunan, tepatnya di Desa Cidolog, Kecamatan Cineam terdapat Situ Hegarmanah. Tidak luas, hanya sekitar 2 hektar, tetapi cukup indah. Genangan airnya yang cukup bening dengan suasana sekitar berupa kebun campur milik penduduk terlihat indah. Di salah satu sudut situ, terdapat masjid yang cukup indah sehingga menambah kesan damai dan tenang.

13.    Curug Panganten Cijeungjing
Berada di wilayah Kabupaten Ciamis, tepatnya berada di Kecamtan Cijeungjing, Desa Kepel. Apabila daria arah Ciamis/ Bandung, di wilayah Karangkamulyan terdapat jalan bercabang yang masing – masing adalah jalan searah hingga kembali bersatu ke jalan umum. Tidak jauh dari penyatuan jalan bercabang terdapat jalan di sebelah kiri menuju SPBBE sekaligus menuju Desa Kepel. Jalanannya berupa aspal lumayan bagus. Jalan masuk ke dalam hingga bertemu dengan jembatan dan terus jalan lagi sedikit hingga bertemu belokan jalan pertama di sebelah kanan yang menuju Desa Kepel.
Setelah itu kita akan melewati daerah persawahan. Hanya saja sayangnya lebar jalan relatif hanya dapat dilalui 1 mobil, lebih sedikit. Jadi bila berpapasan mobil, terpaksa salah satu harus ada yang mengalah dan mencari tempat pijakan agar bisa lewat. Akhirnya pada ujung kampung dimana jalan mobil berakhir, disitulah jalan menuju curug.



 Lokasi curug sangatlah dekat, kurang lebih 200 m dari tempat penghentian mobil. Masuk ke ladang penduduk dan langsung kita temukan Curug Panganten. Kalau hujan lumayan licin tapi masih relatif mudah dilalui.
Curug Panganten tidak begitu tinggi kurang lebih sekitar 15 m. Tetapi airnya yang sangat deras dan jatuh di kolam besar yang merupakan aliran anak Sungai Citanduy. Pada waktu musim hujan, aliran air sangat deras berwarna coklat kemerahan seperti bergejolak jatuh ke bawah. Sedangkan pada musim kemarau aliran air dari atas membentuk curug kembar. Seperti berpasangan. Karena  itu tepat disebut Curug Panganten. Selain itu, dasar kolam menjadi lebih bening dan cukup bersahabat. Karena itu waktu paling tepat datang kesinin adalah pada saat musim kemarau.
Nama Curug Panganten itu sendiri juga ada latar belakang cerita mistis. Di tempat itu kabarnya pernah ada kejadian sepasang pengantin yang sedang berperahu. Sang pengantin lelaki bercanda dengan menakut-nakutin pasangannya dengan menunjukkan ulat bulu. Karena ketakutan, pengantin wanita tercebut. Melihat istri barunya tercebur, sang suami menceburkan diri ingin menyelematkannya. Malang, keduanya justru hanyut terbawa arus deras Sungai Citanduy. Kedua jasad itu tak pernah ditemukan.

14.    Curug Kadupugur
Tidak banyak yang tahu bahwa di wilayah Kecamatan Sindangkasih (dulu bagian dari Kecamatan Cikoneng) mempunyai curug yang lumayan dapat dinikmati pemandangannya dan tentunya sensasi perjalanannya. Curug ini terletak di Dusun Kadupugur (nama curug sesuai dengan nama dusun dimana curug berada), Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Mengenai nama Desa Gunungcupu yang memberi kesan mistis, karena dekat dengan nama jimat kera dalam cerita Ramayana, ternyata ada kisah di balik nama tersebut. 



Apabila kita membawa mobil, kita terpaksa berhenti di jalan aspal terakhir, persis di depan sebuah masjid. Sedangkan motor dapat terus naik ke atas berupa jalan semen. Pemandangan kanan - kiri jalan cukup indah karena berupa hamparan sawah dan kebun penduduk. Pada  ujung jalan semen kita berjalan kaki menerobos semak belukar dan kebun penduduk. Lumayan agak terjal. Kita akan bertemu dengan aliran sungai dari curug yang dapat diseberangi. Menjelang sampai lokasi curug ada bagian jalan yang longsor. Oleh penduduk sudah diperbaiki dengan menaruh  karung berisi tanah.
Tak lama kemudian kita akan menjumpai Curug Kadupugur. Lumayan indah. Curug itu terbagi dua oleh sebuah batu. Aliran sebelah kiri sangat deras, sedangkan satu lagi seperti air saweran. Ketinggian curug hanya sekitar 8 m. Hati - hati jatuhan air sangat deras, lebih baik mandi di jatuhan air yang seperti saweran. Di atas curug terdapat aliran air sungai. Kata penduduk ada lagi curug di bagian hulu. Sayang jalan menuju kesana masih berupa hutan lebat.

15.    Lembah Cibaruyan – Lembah Hijau
Bayangkan bila kita berada di suatu lembah yang lingkungannya masih asri dengan aliran air sungai yang jernih. Kita akan merasakan kesejukan dan kedamaian disana. Nah, salah satu tempat tersebut berada di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis. Akses masuk adalah dari pertigaan Cikujang yang berada di jalan provinsi Cihaurbeuti. Letak pertigaan tersebut dekat dengan Waterpark Sukahaji. Dari pertigaan masuk mengikuti jalan utama dengan kondisi aspal baik meskipun agak sempit. Di bagian pertengahan perjalanan kita akan disuguhi pemandangan indah sawah terhampar hijau dan jembatan Cibaruyan.
Sampai di pabrik huller (penggilingan padi) kita akan menjumpai jalan yang lebih sempit dengan kondisi aspal  yang terkelupas. Kita masuk ke jalan tersebut yang masih bisa dilewati mobil. Mula - mula kita melewati rumah penduduk lalu peternakan.Yang akan kita kunjungi pertama kali adalah Lembah Hijau dengan menuruni cabang jalan di sebelah kiri. Tidak berapa lama kita akan menemukan hamparan sawah dengan aliran sungai jernih mengalir di tengahnya. Sangat indah untuk berfoto - foto disini. Kita juga bisa mandi - mandi di sungai ini. Di musim kemarau aliran air berkurang tetapi masih nyaman untuk mandi. Sungai Cibaruyan yang mengalir ini berasal dari lembah Cibaruyan yang akan kita kunjungi setelah ini.


Dekat areal persawahan terdapat dam yang berfungsi mengatur irigasi setempat.Letak dam yang cukup besar dan tinggi di areal persawahan membuat tempat ini cukup indah dijadikan tempat berfoto. Air yang mengalir cukup deras dan bening kontras dengan latar belakang sawah yang hijau dan pepohonan lebat sungguh memanjakan mata kita. Berikutnya kita menuju ke Lembah Cibaruyan dengan arah kembali lalu di persimpangan kita kemudian naik ke atas lagi.
Lembah Cibaruyan juga disebut lubang timah. Hal ini karena memang pada akhir masa penjajahan Jepang pernah terdapat penambangan timah. Tetapi karena tidak ekonomis, setelah era kemerdekaan usaha ini ditutup. Sebenarnya bekas tambang timah berupa lubang besar masih ada. Tetapi karena tertimbun tanah dan ditumbuhi vegetasi belukar menyebabkan kita sulit untuk mencarinya.
Tempat yang kita tuju ini, yaitu Lembah Cibaruyan, berada dalam lingkup kawasan hutan lindung yang dikelola oleh Perhutani. Perjalanan semakin berat karena kondisi fisik jalan berupa jalan batu rusak dan sempit. Masih dapat dilewati mobil namun harus hati - hati karena kondisi jalan tersebut ditambah dengan adanya jurang di sebelah kiri. Pepohonan cukup lebat memberikan pemandangan asri dan alami yang luar biasa. Kurang lebih 2 km kita akan bertemu dengan pos jaga Perhutani. Sekali lagi sepanjang perjalanan kita benar - benar disuguhi pemandangan indah berupa sawah berundak mengikuti kontur dengan latar belakang hutan hijau lebat sangat luar biasa indah. Setelah dari pos masih berjalan sekitar 800 m hingga tempat terakhir parkiran mobil dan motor. Di tempat parkir tersebut terdapat musholla dan warung kopi. Di tempat parkiran saja kita sudah merasakan nikmatnya alam sekitar berupa segarnya udara, indahnya pemandangan dan suara - suara fauna seperti burung, tonggerek dan lainnya bak orkestra layaknya.



Di tempat tersembunyi, nun jauh di tengah hutan terdapat Curug Cingembat dan Curug Cilopadang. Menurut kabar penduduk setempat, dua curug tersebut cukup tinggi, di atas 50 m. Hanya  sayang letaknya sangat sulit dijangkau baik dari segi jarak maupun medan yang curam. Mungkin diperlukan peralatan pendakian gunung dan kondisi fisik yang prima untuk mencapai dua curug tersebut.



Dari tempat parkiran kita jalan kaki ke arah sungai. Tidak jauh hanya sekitar 150 m kita sudah sampai. Pertama kita jumpai adalah jembatan (sasak) bambu unik yang membentang di atas sungai. Ini saja sudah merupakan obyek foto tersendiri. Setelah itu pasti kita akan tergoda untuk segera masuk ke dalam sungai. Untuk bermain air, lokasi sekitar jembatan saja sudah layak dan cukup deras. Tapi penulis menyarankan naik lebih ke atas karena areal pemandian yang lebih luas dengan batuan besar sekitarnya. Disamping itu ada aliran dari undakan batuan yang sangat nikmat untuk bermain - main sekitarnya. Airnya jernih sekali dan dingin, membuat tubuh terasa sangat segar. Kita bisa melakukan aktivitas berkemah atau sekedar botram (makan - makan dengan bekal). Tapi mohon dengan sangat agar tidak meninggalkan sampah di tempat ini. Selamat menikmati

16.    Dam Padamulya
Akses jalan menuju desa ini adalah melalui jalan cihaurbeuti menuju Panjalu. Di areal persawahan luas terdapat jalan sederhana menuju Desa Padamulya. Mobil hanya bisa sampai
Di Desa Padamulya, Kecamatan Cihaurbeuti pernah menyimpan duka mendalam penduduk desa tersebut. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 Maret 2011 ketika banjir bandang menerjang desa tersebut yang menyebabkan jatuh korban 6 jiwa meninggal, dan 43 rumah hancur lebur. Air tersebut berasal dari Sungai Ciharus yang berasal dari Gunung Syawal. Air genangan cileuncang (banjir bandang) tersebut tidak hanya merendam halaman rumah dan sawah serta kebun warga.



Agar kejadian tersebut tidak terulang, maka oleh pemerintah dibangun cek dam di desa tersebut. Wilayah Desa Padamulya termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy sehingga pembangunan cek dam dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Citanduy. Cek dam tersebut berfungsi sebagai penampung aliran air dari wilayah sekitar. Secara fisik terlihat seperti kolam besar dan dalam. Selesainya dam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sehingga banyak yang datang berkunjung.
Fungsi cek dam harus tetap dijaga sebagai pengendali aliran air. Di sisi lain daerah sekitar dam dapat dijadikan taman dan beberapa sarana rekresi  umum sehingga bisa menjadi obyek wisata tersendiri. Bagi pengunjung harus memperhatikan kebersihan dan harus hati – hati. Sebab bila terpeleset dan jatuh ke dalam cek dam akan fatal akibatnya.

17.    Situ Rancamaya
Situ kecil ini semula hanya merupakan tempat wisata lokal yang tidak terkenal. Namun semenjak dibangunnya suatu perumahan dan penataan lingkungan sekitar, Situ Rancamaya mulai dilirik menjadi satu tempat wisata yang lumayan representatif. Letak situ ini berada di Desa Rancamaya, Kecamatan Cikoneng. Akses jalan cukup mudah, yaitu selepas pertigaan Sindangkasih, sekitar 500 m terdapat jalan masuk dengan gapura yang mencolok bertuliskan Rancamaya. Setelah itu masuk ke dalam kurang lebih 300 meter hingga Situ Rancamaya.






Situ Rancamaya memang situ alam yang merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus juga sumber air irigasi setempat. Sebelumnya situ ini kurang terawat dan kurang menarik. Saat ini sekitar situ telah dibeton dan ditanami pepohonan. Di beberapa spot dibangun pondok untuk bersantai. Suasana sekitar masih cukup asri. Pengunjung yang datang sebagian besar adalah penduduk lokal termasuk penghuni perumahan. Belakangan, pengunjung dari luar mulai tertarik datang ke tempat ini.

18.    Waterboom Sukahaji

Sarana rekreasi air tampaknya mulai menggejala di daerah pedesaan. Sebelumnya hanya kota – kota besar tentunya dengan sarana yang lebih lengkap dan areal yang luas, sekarang ini sudah banyak kecamatan di daerah memiliki tempat rekreasi sejenis waterpark. Salah satu tempat rekreasi air yang semula untuk wisata lokal tapi mulai diminati dari luar daerah adalah Waterboom Sukahaji. Terletak di tepi jalan raya Cihaurbeuti – Ciamis sehingga mudah dikenali. Tempat rekreasi ini berkembang pesat dan pengunjungnya bahkan dari luar seperti Banjar, Tasikmalaya dan Singaparna. Fasilitas yang ada di waterboom ini adalah wahana air, taman lalu lintas, sarana bermain lumpur dan tempat memancing. Selain itu lingkungan sekitar yang masih asri dengan latar belakang daerah pesawahan. Saat ini setiap liburan weekend maupun hari libur nasional banyak pengunjung. Sangat cocok untuk acara anak – anak dan rekreasi keluarga.

19.    Situ Wangi
Tempat ini sudah mulai dikenal karena penataan lokasi yang cukup signifikan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis. Semula situ ini hanya merupakan cekungan air yang kurang perhatian dengan luas sekitar 1 hektar. Pemanfaatan situ hanya untuk penangkapan ikan yang tidak begitu berarti dan perairan setempat. Kalaupun untuk rekreasi hanya diketahui oleh masyarakat dari wilayah sekitar saja.
Situ Wangi berada di wilayah Desa Winuraja, Kecamatan Kawali. Letak lokasi ini berada tepat di tikungan menuju ke arah Kawali, tepatnya setelah melewati lokasi Icakan, sehingga akan mudah terlewati bila tidak diingatkan sebelumnya. Dari pintu gerbang hanya berjarak sekitar 300 meter ke situ yang dimaksud. Sekarang ini untuk masuk lokasi sudah dikenakan tarif parkir dan masuk per orangan dengan harga murah yang dikelola oleh Pemerintah Desa setempat.


Fasilitas yang ada selain tempat parkir, terdapat juga taman dan pondok sederhana untuk beristirahat. Tepi situ sudah disemen sehingga menambah keindahan dan kenyamanan pengunjung untuk duduk – duduk sekitar danau mini. Sejauh ini kebersihan tempat masih bisa dijaga, karena itu kesadaran pengunjung untuk tidak buang sampah sembarang sangat penting untuk menjaga keasrian Situ Wangi.
Kedalaman situ bervariasi antara 2 – 3 meter. Airnya cukup jernih sehingga mengundang orang untuk berenang. Namun demikian disarankan untuk tidak berenang. Pertama karena tidak ada sarana kamar mandi umum. Kedua, wilayah perairan situ masih alami dan langsung dalam sehingga rawan kecelakaan tenggelam.

20.    Situ Cibubuhan
Di perjalanan Sukamantri-Cikijing kita akan bertemu Situ Cibubuhan yang tepatnya berada di Desa Cibereum, Kecamatan Sukamantri. Situ Cibubuhan memiliki luas sekitar 2 hektar, memiliki pemandangan menawan sekitarnya. Pada bagian pinggirnya telah ditembok sehingga memberi kesan terpelihara. Selain itu juga terdapat beberapa saung makanan dan beberapa tempat duduk. Pada hari libur weekend maupun hari libur umum cukup ramai dikunjungi, karena letaknya persis di tepi jalan. Terdapat plang informasi mengenai tempat wisata lokal lengkap dengan petanya di sekitar Situ Cibubuhan.


Beberapa tempat wisata lokal yang berdekatan adalah :
-   Curug Cekong tepatnya berada di Dusun Bojongsari yang berada di wilayah Utara Desa Cibeureum. Untuk menuju kesana, kita mengambil jalan menuju Desa Sindanglaya di pertigaan persis di depan Situ Cibubuhan. Sampai di persimpangan jalan desa menuju Dusun Bojongsari perjalanan diteruskan di jalan tersebut sampai di suatu kebun penduduk. Selanjutnya perjalanan harus dilalui dengan jalan kaki kurang lebih 1 km hingga lokasi curug melalui semak belukar dan kebun penduduk.
Sebaiknya ke Curug Cekong pada waktu awal atau akhir musim hujan ketika debit air masih baik. Pada musim kemarau hanya sedikit air sehingga mengurangi keindahannya. Keunikan curug ini adalah dinding tebing tempat jatuhnya air seperti susunan batu – batuan dan air jatuh seperti gemericik pancuran. Daerah sekitarnya yang masih semak belukar memberi kesan asri dan adem.
-          Cek dam. Bangunan pengendali banjir ini mulai didatangi orang karena pemandangannya berupa air mengalir dan sawah sekitarnya. Selain adanya tembok bangunan memberikan rasa nyaman untuk bersantai disana.
-          Pemandangan werkit. Merupakan tempat di dataran tinggi dengan pemandangan lahan sayuran  yang dibuat bertingkat mengikuti lereng. Di tempat ini cocok untuk botram atau makan perbekalan sendiri sambil menikmati indahnya pemandangan dan segarnya udara.
-          Batu panjang

21.    Kawasan Hutan Pinus Talaga
Jalur alternatif dari Ciamis atau Tasikmalaya menuju Kuningan-Cirebon adalah melalui Cihaurbeuti-Panumbangan-Sukamantri terus tembus ke Cikijing. Rambu arah jalur ini berada di simpang pertigaan setelah Panumbangan yaitu lurus menuju Panjalu dan belok kiri ke arah Sukaantri. Dibanding jalur Kawali-Panawangan-Cikijing, jalur ini memang lebih pendek tetapi harus melewati bukit yang cukup curam sehingga memerlukan kehati-hatian dan kondisi kendaraan harus fit.


Pengelolaan kawasan hutan pinus oleh Perhutani yang terbagi atas Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Majalengka dan Ciamis. Meskipun kesannya dibagi 2 wilayah, namun secara kasat mata tidak dijumpai perbedaan dimana seluruhnya merupakan hamparan hutan pinus. Hutan pinus Talaga memang diperuntukkan untuk penghijauan oleh Perhutani. Namun seiring dengan semakin banyakya lalu lintas kendaraan, tempat ini menjadi alternatif tempat beristirahat atau rest area. Sudah terdapat beberapa warung minuman untuk sekedar beristirahat dan melepas dahaga serta mengisi perut sekedarnya. Sebelum kawasan hutan pinus terdapat beberapa spot ketinggian yang menarik dimana kita bisa melihat pemandangan alam sekitarnya. Kalau masih ada waktu kita bisa berhenti untuk sekedar mengambil foto atau meregangkan tubuh.

22.    Kawasan Hutan Pinus Darmacaang
Lahan seluas sekitar 7 hektar ini kondisi geografisnya berupa perbukitan dengan vegetasi dominan berupa pohon pinus. Hutan pinus Darmacaang berada di wilayah administrasi Desa Darmacaang, Kecamatan Cikoneng. Status tanah ini adalah milik Perhutani, tetapi pengelolaan tempat wisata dilakukan bersama dengan Pemerintah Desa Darmacaang dan karang taruna setempat.
Faktor lingkungan yang masih asri dan udara yang sejuk membuat tempat ini mulai dilirik sebagai tempat wisata alternatif. Hanya sayang akses ke lokasi ini agak berliku melewati jalan – jalan desa yang banyak persimpangan dan sempit. Tidak ada petunjuk khusus sehingga kita harus sering bertanya. Meskipun demikian, akses lokasi pertama adalah dari jalan raya provinsi menuju Ciamis, masuk ke lokasi dari berbagai titik di wilayah Kecamatan Cikoneng.






Sarana yang dijumpai di Kawasan Hutan Pinus Darmacaang adalah tempat parkir yang masih sederhana dan hamparan rumput di sela – sela hutan pinus tempat dimana kita bisa sekedar beristirahat dan makan bersama. Terdapat beberapa warung minuman. Kalo kita sengaja ingin membuat nasi liwet kita bisa memesan pada tukang warung disana. Tentunya kalo mau menu khusus kita bisa bawa sendiri bahan – bahannya untuk dimasakkan.
Pada masa sebelumnya, sekitar tahun 2000-an tempat ini tertata dengan baik dimana terdapat beberapa kandang rusa tutul dan hewan liar tertentu. Hanya karena salah pengelolaan tempat ini menjadi terbengkalai. Baru dibuka kembali sekitar tahun 2015. Tetapi daya tarik lokasi belum begitu sebaik pada masa sebelumnya. Hal tersebut karena masih sedikitnya area hutan pinus yang dapat dimanfaatkan tempat rekreasi sedangkan selebihnya masih berupa belukar. Selain itu kebersihan tampak kurang terjaga akibat minimnya tempat pembuangan sampah.

23.    Situs Pangcalikan
Ciamis kaya akan peninggalan situs – situs bersejarah. Sebelumnya telah disebutkan ada situs kuno di Tambaksari, Karangkamulyan, Gunung Susuru dan Kawali. Di salah satu pelosok di wilayah Kabupaten Ciamis, tepatnya di Desa Sukaresik, Kecamatan Cikoneng terdapat semacam objek peninggalan purbakala yang oleh masyarakat setempat dinamakan Situs Pangcalikan..
Situs ini terletak dekat dengan obyek wisata hutan pinus Darmacaang. Setelah memasuki kawasan hutan pinus dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalan setapak berbatu yang menanjak kurang lebih 500 m. Jalan tersebut sudah sering dilalui sehingga tidak sulit untuk melacak situs yang dimaksud.
Pada kompleks Situs Pangcalikan terdapat objek berupa bangunan berundak, makam, dan kolam. Bangunan berundak di Gunung Padang terpusat pada batu datar yang disebut pangcalikan. Batu ini berada di dalam bangunan semacam cungkup yang dibangun secara swadaya oleh kerabat juru pelihara pada tahun 1999. Bangunan cungkup menghadap ke arah selatan berukuran sekitar 4 x 5 m berdiri pada tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya. Lahan tersebut dibatasi dengan semacam talud batu. Batu pangcalikan terdiri dua bongkah batu berukuran besar dan ukuran kecil. Di sebelah selatan pangcalikan terdapat enam batu tegak dan di sebelah utara terdapat satu batu tegak. Di sebelah utara (belakang) bangunan cungkup terdapat hamparan batu yang bentuk dan ukurannya bervariasi. Jarak dari batas benteng talud ke hamparan batu sekitar 3 m .
Di sebelah utara bangunan terdapat makam yang ditandai dengan nisan yang tidak terdapat keterangan. Jarak antara makam dengan talud batu sekitar 5 m. Di Situs Gunung Padang  terdapat 1 kolam yang disebut cikahuripan dan 3 sumur kecil sebagai sumber mata air. Kolam dan sumur kecil terletak di sebelah utara halaman inti. Kolam Cikahurupan berukuran panjang 5 m dan lebar 4 m. Letak 3 sumur kecil adalah di sebelah utara kolam Cikahuripan dengan jarak sekitar 5 m terdapat tiga sumur kecil sebagai sumber mata yang mengalir ke kolam kahuripan melalui bawah tanah.

24.    Cadas Ngampar Sadananya
Tempat ini juga merupakan tempat rekreasi wisata lokal tetapi soal kenikmatan yang ditawarkan nggak kalah dengan tempat rekreasi berbayar di kota besar. Apa yang menjadi daya tariknya. Tidak lain adalah aliran sungai jernih, bak air aqua yang tumpah bergalon – galon dan sejuk dingin. Hal ini yang menurut penulis tidak akan dijumpai di waterpark yang mahal. Air yang masih alami, bersih dan sejuk memberikan sensasi kenikmatan bermain basah – basahan disini.


Cadas Ngampar merupakan bagian dari Sungai Cileueur dimana terdapat banyak batuan besar berserakan (karena itulah dinamakan demikian). Letak lokasinya adalah di Desa Gunung Sari, Kecamatan Sadananya. Akses masuk adalah jalan desa Sadananya yaitu dekat dengan pom bensin desa Imbanegara. Jalan desa beraspal bagus sehingga memudahkan berkendaraan ke lokasi wisata yang kita maksud. Setelah itu kita harus beberapa kali bertanya karena memang tak ada petunjuk khusus. Tempat persis lokasi cadas ini adalah dekat dengan jembatan sungai. Tempat parkir khusus tak ada sehingga kita harus cari sendiri. Dari jalan desa kita turun ke areal pesawahan menuju sungai. Kita bisa memilih batuan besar untuk bermain basah – basahan.




Kedalaman air tidak dangkal dan tidak juga dalam sehingga nyaman dan aman untuk bermain – main disana. Aliran air ini berasal dari Gunung Tugu yang merupakan salah satu bukit dari rangkaian Pegunungan Sawal. Sekarang ini areal sekitar sungai sedang ditata untuk pembuatan sarana rekreasi. Di seberang Cadas Ngampar terdapat kolam renang yang juga cukup menyenangkan. Bagi yang suka fasilitas modern dengan aliran air segar, tempat ini menjadi alternatif tempat rekreasi.

25.    Batu Ngampar Cihaurbeuti
Tidak seperti tempat wisata batu ngampar di tempat lain, maka lokasi ini hanya berupa batu – batuan besar yang berserakan di daerah pertanian dan semak belukar. Terletak di kaki Gunung Sawal, tepatnya berada di Dusun Singkup, Desa Medanglayang, Kecamatan Panumbangan. Bila dari arah Tasik/ Ciamis tepatnya dari batas kecamatan Cihaurbeuti hanya beberapa puluh meter kita akan menemukan plang Batu Ngampar. Kemudian kita memasuki jalan desa yang sempit, yang meskipun beraspal tetapi untuk mobil kurang nyaman. Harus hati – hati dan penuh perhitungan terlebih bila berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan. Medan jalan dengan kemiringan cukup terjal membutuhkan kondisi mobil yang prima. Setelah melewati perkampungan dan tanah pertanian kurang lebih 2 km sampailah di lokasi Batu Ngampar.
Sumber foto : http://swattasikmalaya.blogspot.co.id/2012/10/obyek-wisata-batu-ngampar-dan-ziarah.html
Tempat ini memang tidak banyak dikunjungi wisatawan karena akses jalan yang sempit. Tetapi bagi pecinta wisata alam, tempat ini cukup menarik karena pemandangan sekitar yang masih alami dan udara yang sejuk. Di hadapan kita terpampang Gunung Sawal, karena tempat ini merupakan salah satu lereng gunung. Dekat daerah berbatuan terdapat aliran sungai kecil yang sangat jernih. Uniknya terdapat batuan besar yang berfungsi sebagai bendungan dan membentuk kolam. Di kolam dengan kedalaman sekitar 1- 2 m ini kita bisa bermain – main air. Di sekitar lokasi ini juga terdapat beberapa curug dengan ketinggian bervariasi. Hanya saja lokasinya masih jauh ke dalam hutan. Masih terdapat hewan – hewan buas seperti kucing liar dan macan dahan. Kalau tidak membawa peralatan mendaki gunung dan pengalaman, lebih baik tidak diteruskan.
Mungkin tempat yang paling direkomendasikan adalah Puncak Puspa. Suatu tempat ketinggian dimana kita bisa melihat sejauh mata memandang daerah dataran di bawahnya. Sangat indah, dan ini hanya bisa dijumpai di tempat alam yang liar. Untuk menuju ke tempat ini sebaiknya membawa seorang penduduk setempat karena tidak ada trek khusus. Jaraknya sekitar 1 km tetapi banyak naik turun dengan semak belukar sekitarnya, apabila dipandu orang yang sudah tahu bisa ditempuh sekitar 1 jam. Di tengah perjalanan kita akan menjumpai Curug Pelangi yang cukup indah. Dinamakan Curug Pelangi karena sekitar jam 3 sore akan terlihat pelangi. Tapi untuk menunggu datangnya pelangi ....resiko kemalaman di jalan. Yang jelas Batu Ngampar merupakan salah satu wisata alam yang cukup menantang.

26.    Gunung Golkar
Gunung yang sebenarnya merupakan bukit ini berdekatan dengan Gunung Sawal. Nama Golkar yang merujuk pada salah satu parpol, kemungkinan karena kontribusi partai tersebut pada masa Orde Baru yang membangun infrastruktur di daerah tersebut. Sekarang ini Gunung Golkar semakin menjadi pusat perhatian para wisatawan yang menyukai alam bebas, terutama yang suka dengan rally sepeda gunung.
Ketinggian Gunung Golkar mungkin hanya sekitar 700 m d.p.l. Hamparan di bawah berupa daerah pertanian dan pemukiman penduduk menjadi daya tarik tersendiri disamping udaranya yang sejuk. Untuk menuju lokasi ini bisa dari berbagai titik di wilayah Kecamatan Sindangkasih dan Cikoneng. Namun titik terdekat adalah dari Desa Ancol (di Jakarta adalah nama tempat rekreasi ya....), Kecamatan Sindangkasih. Bila dengan kendaraan roda 4, kita hanya bisa sampai di Cireong, yang juga merupakan tempat wisata sungai. Sedangkan dengan kendaraan roda 2 bisa sampai ketinggian tertentu di sebuah madrasah dimana sudah tidak jauh lagi dengan puncak Gunung Golkar (tetapi masih lumayan melelahkan).



Perjalanan dari tempat parkir mobil jelas akan melelahkan. Sekitar 2 km ke lokasi bumi perkemahan Gunung Golkar, sedangkan dari parkiran motor hanya 700 meter lagi. Tapi tidak semata bilangan angka jarak yang  harus diperhitungkan adalah lereng jalan yang cukup terjal. Jalan pertama hingga parkiran motor masih berupa jalan beton yang lumayan baik. Setelah itu jalan mulai rusak beberapa puluh meter dan selanjutnya adalah jalan tanah. Untuk motor trail masih bisa dilalui tentu dengan usaha keras karena di beberapa spot rusak parah. Akhirnya sampailah pada tempat pertama perkemahan. Tempat ini cukup indah dengan pemandangan sekeliling dan udara sejuk dingin. Masih terdapat 2 tempat perkemahan lagi di bagian atas hingga bagian mendekati puncak ketinggian.
Secara spesifik memang tidak ada tempat rekreasi, yang ada hanya tempat yang biasa digunakan untuk berkemah berupa sedikit hamparan rumput. Tidak ada warung atau orang berjualan makanan minuman sehingga sejak tempat parkiran kita harus menyiapkan keperluan tersebut. Biasanya wisatawan alam atau pe-rally sepeda atau motor trail akan beristirahat sejenak atau membuat hidangan sendiri. Yang harus diperhatikan pada musim panas jangan meninggalkan api karena dapat menyebabkan kebakaran semak belukar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan pada musim hujan adalah petir atau kilat yang berbahaya pada areal tertentu.
Di bukit seberang Gunung Golkar adalah hutan pinus Darmacaang. Hanya saja untuk menuju hutan pinus tersebut terpisah dari jalur ke Gunung Golkar sehingga harus turun dan mendaki lagi. Titik awal perjalanan adalah dari Cireong melalui jalan desa dan jalan setapak hingga mencapai hutan pinus. Pemandangannya tidak kalah menarik hanya saja ketinggiannya masih kalah dari Gunung Golkar.

27.    Cireong
Tempat wisata Cireong pada mulanya adalah tempat penduduk sekitar berekreasi dengan mandi dan basah – basahan di Sungai Cireong. Sungai Cireong ini mengalir hingga ke Sungai Citanduy. Airnya yang masih jernih, segar dan lumayan dingin tentunya sangat memenuhi syarat untuk bermain basah – basahan. Mungkin di kota – kota besar kondisi air seperti ini tidak akan ditemui. Belum lagi di tempat tersebut berserakan batu – batuan besar membentuk kolam – kolam kecil yang mengalir dan tentunya udara sejuk. Tidak heran setahun terakhir menyedot perhatian masyarakat luar. Pada hari sabtu minggu dan libur nasional pengunjung datang dengan jumlah cukup banyak. Idealnya datang sehari setelah hujan di tempat itu karena aliran air sudah jernih. Pada musim hujan tentunya air melimpah, tetapi pada  musim kemarau masih cukup lumayan aliran airnya. Waktu terbaik adalah di penghujung musim hujan saat mana air masih melimpah dan jernih.




Fasilitas  yang ada adalah tempat parkir kendaraan roda 2 dan roda 4, taman sederhana dan warung – warung minuman. Meskipun masih dikelola secara sederhana oleh desa setempat tetapi cukup nyaman berekreasi disana. Tempat inilah sekaligus titik awal pendakian menuju Gunung Golkar dan bukit pinus.
Akses masuk ke lokasi ini seperti yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu menuju Gunung Golkar. Jadi untuk menuju Gunung Golkar pasti akan melalui obyek wisata Cireong. Tepatnya lokasi ini berada di Desa Sukaresik, Kecamatan Sindangkasih.

28.    Batu Datar Cipaku
Tempat ini dipilih menjadi destinasi wisata karena letaknya di spot ketinggian dimana kita bisa melihat pemandangan sekitar yang indah. Malah, waktu yang paling indah adalah pada saat matahari terbit (sunrise). Di antara langit temaram kekuningan kita melihat Gunung Ciremai dan Gunung Slamet secara terpisah seperti monster yang tegak diam dari kejauhan, sungguh pemandangan menakjubkan. Pada waktu pagi dan siang memang kita bisa melihat kedua gunung itu, tetapi paling menakjubkan pada waktu fajar itu.
Tempat wisata ini berada di Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku. Jalan masuk adalah dari jalan raya Ciamis – Kuningan, di wilayah Kecamatan Cipaku. Terdapat 3 jalur akses yaitu dari Desa Cipaku, Desa Ciakar dan Desa Bangbayang. Jalan akses dari desa itu cukup baik yaitu dengan kondisi jalan berupa jalan aspal. Mendekati lokasi tersebut kondisi jalan tidak begitu baik. Di dekat lokasi tersebut terdapat goa yang menurut penduduk setempat dapat tembus ke Gunung Golkar.

29.    Makam Nike Ardilla
Nike Ratnadilla Kusnadi atau yang dikenal dengan Nike Ardilla, sepertinya sulit dilupakan. Penyanyi cantik dengan suara merdu kelahiran Bandung tanggal 27 Desember 1975 mempunyai akar keturunan dari Ciamis. Bahkan nama akhirnya yaitu Ardilla diambil dari nama bukit di tempat kelahirannya yaitu Gunung Ardilaya. Kematian tragisnya dalam suatu kecelakaan tunggal di Bandung pada tanggal 19 Maret 1995 menyisakan duka yang mendalam bagi  penggemarnya. Almarhumah dimakamkan di Desa Imbanegara, Kecamatan Ciamis yang merupakan tanah leluhurnya. Nike Ardilla tidak hanya berprestasi sebagai penyanyi tetapi juga artis bintang film dan model.


Setiap tahun selalu ada yang berziarah ke makam Nike Ardilla ini. Khusus pada tanggal kelahiran dan kematian almarhumah selalu diadakan semacam haul oleh penggemarnya yang bahkan berasal dari luar Jawa. Mungkin berlebihan tapi kenyataannya demikian bahwa hanya Nike Ardilla selebritis yang makamnya selalu ramai diziarahi. Ini membuktikan nama besar Nike Ardilla masih tertanam kuat.
Makam Nike Ardilla sendiri berada tidak jauh dari jalan raya Ciamis – Imbanegara. Di pinggir jalan telah ada papan petunjuk dan terus saja masuk sekitar 200 meter. Suasana asri langsung kita rasakan saat masuk jalan menuju makam. Pusara Nike Ardilla ditata dengan apik dalam bentuk semacam pendopo dengan beberapa undakan di sekitarnya. Terdapat juga masjid dan tempat parkir yang cukup luas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar