Senin, 12 Juni 2017

Jelajah Alam di Kabupaten Tasikmalaya-1

Banyak tempat wisata menarik di Kabupaten Tasikmalaya baik sebagai rekreasi keluarga maupun rekreasi petualangan (adventure). Tempat wisata di Kabupaten Tasikmalaya sangat bervariasi yaitu wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan (dibangun tempat wisata baru). Wisata alam di Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari wisata alam bernuansa pegunungan seperti situ dan sungai serta wisata pantai. Semuanya bagus. Seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya mempunyai daya tarik tersendiri sehingga oleh masyarakat dijadikan tempat rekreasi lokal. 

KABUPATEN TASIKMALAYA
1.        Kawasan Wisata Gunung Galunggung
Ikon pariwiisata Kabupaten Tasikmalaya yang paling banyak dikenal orang tidak salah lagi yaitu Gunung Gallunggung. Gunung yang pernah meletus pada tahun 1982 dengan abu vulknik hasil letusannya yang sempat membuat repot seantero provinsi Jawa Barat dan sekitarnya serta dengan suka duka yang menyertainya, kini telah berubah menjadi destinsi wisata yang indah. Rasanya tidak lengkap kalau ke Tasikmalaya tidak ke Gunung Galunggung.
Jalan – jalan ke Gunung Galunggung jangan dibayangkan harus membawa perlengkapan camping, kecuali bila memang berniat demikian. Di Galunggung tersedia spot – spot wisata yang dapat dikunjungi bersama keluarga.
Obyek wisata Gunung Galunggung berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Sukaratu.




Kawah Gunung Galunggung
Salah satu peninggalan letusan tersebut adalah kawah dengan danau ditengahnya.  Kawah tersebut kini menjadi tempat wisata yang tamai dikunjungi setiap waktu libur. Letak kawah tersebut sebenarnya merupakan anak Gunung Galunggung yang meletus pada tahun 1982, sedangkan Gunung Galunggung induknya masih berdiri kokoh dengan status gunung api dorman (tidur).
Untuk mencapai kawah terdapat 2 jalan mendaki dengan jumlah tangga berbeda. Jalur pertama lebih dahulu kita jumpai dengan plang yang jelas. Dari jalan masuk yang sudah merupakan jalan aspal, kita terus mengikuti hingga akhir jalan. Jalan ini juga terdapat Curug Agung, yang akan diceritakan kemudian.




Pendakian Kawah Galunggung Pertama

Di lokasi kawah pertama ini tersedia tempat parkir dan warung – warung serta musholla. Jumlah anak tangga hingga ke puncak kawah sejumlah 520. Apabila kita sudah sampai di kawah, posisinya berada paling ujung kawah. Antara tempat kawah ini ke tempat berikutnya sudah terhubung dengan jalan setapak yang  cukup nyaman sejauh kurang lebih 1 km. Di atas tempat kawah ini terdapat beberapa warung meskipun tidak sebanyak yang kedua. Sedangkan panorama di tempat ini cukup indah. Kita bisa turun ke danau kawah tetapi cukup curam dan belum tersedia trek ke arah danau. Karena itu di tempat ini pengunjung lebih banyak hanya menikmati pemandangan. Kalau kita mau bersabar, tempat ini paling tepat untuk menyaksikan matahari tenggelam (sunset) di tempat yang tinggi.






Pendakian Kawah Galunggung Kedua

Satu sisi lain yaitu tempat kawah kedua letaknya merupakan ujung atau akhir jalan aspal di Galunggung. Di tempat ini memang lebih populer karena berada di tengah sisi kawah. Pemandangan ke arah kawah dan sekitarnya lebih indah dari tempat pertama. Hanya saja jumlah anak tangganya lebih banyak yaitu 620. Lelah memang, tapi itu akan terbayar dengan pemandangan yang indah dan lebih banyak tempat untuk dieksplor.
Sampai di kawah kita benar – benar disuguhi pemandangan elok nan alami. Benar – benar  pandangan kita tidak bisa lepas dari panorama luar biasa baik danau kawah maupun lingkungan sekitarnya. Tebing kaki gunung bagaikan dinding pelindung danau kawah yang ditumbuhi hijauan pepohonan dan semak belukar memang  membuat kita berdecak kagum. Dari tempat berdiri, ke arah induk gunung terdapat jalan setapak hingga batas tertentu. Di jalur ini kita bisa mencari jalur untuk turun ke bawah. Terdapat beberapa trek yang penah dilalui pengunjung sehingga mempermudah jalan ke danau.




Danau kawah Gunung Galunggung  benar – benar jernih.Ikan sejenis mujair hidup di danau tersebut. Namun sebaiknya kita jangan mengkonsumsi ikan maupun air danau mengingat kandungan zatnya yang tidak baik bagi kesehatan tetapi tidak langsung berdampak kematian. Bagi yang berniat berkemah, tempat ini sangat cocok untuk berkemah. Sambil membayangkan bagaimana kalau meletus..... Jangan khawatir, kalau ada gejala vulkanik,, sudah pasti dilarang oleh petugas untuk turun apalagi berkemah, pasti tidak diperkenankan. Yang jelas, danau kawah Galunggung memberikan sensasi tersendiri.

Curug Agung




Gunung Galunggung tidak hanya memiliki keindahan panorama tetapi juga baru - baru ini diperkenalkan pemandangan Curug Agung Galunggung. Letak curug ini berada pada kawasan Galunggung yang pertama. Dari jalan menuju lokasi curug sangatlah dekat yaitu sekitar 200 meter. Jalan setapak menuju curug sudah dibersihkan dan ditata. Meskipun masih tanah tapi cukup nyaman dengan sedikit menanjak sehingga tidak begitu melelahka. Sampailah kita di Curug Agung yang dipagar besi di bagian tebingnya. Kita hanya bisa menikmati dari tebing seberangnya saja. Letak lokasi air terjun tidak memungkinkan untuk menikmati airnya. Cukup pemandangannya saja dan itupun sudah memberikan kepuasan karena indahnya. Jangan coba - coba melewati pagar besi, sangat berbahaya karena langsung jatuh ke jurang yang dalamnya lebih dari 100 meter. Ketinggian curug sekitar 80 meter.

Pemandian Air Panas Cipanas
Pemandian air panas ini merupakan tempat rekreasi pertama yang dijumpai, yang letaknya masih di bawah kawasan wisata. Tersedia tempat parkir yang luas dan warung makan yang cukup banyak. Tidak usah khawatir tidak membawa bekal, disamping banyak pilihan, harganya juga murah. Kita bisa langsung memanfaatkan kolam – kolam pemandian air hangat. Di sekitar kolam – kolam juga terdapat banyak warung dan taman. Kita bisa menggelar tikar sambil menikmati hidangan yang kita bawa atau dari warung.





Di dalam kawasan air panas ini terdapat bagian lain pemandian air panas yang lebih alami dan banyak tempat. Uniknya kita mandi di antara aliran sungai kecil yang airnya agak panas. Di beberapa tempat terdapat cabang yang menjadi semacam kolam kecil sehingga kita bisa nyaman berendam..
Untuk memasuki areal pemandian alam ini kita harus membayar seharga Rp. 10.000 per orang. Agak mahal memang tetapi kita benar – benar meraasakan sensasi sendiri karena mandi di alam lepas yang airnya hangat. Belum lagi alam sekitar yang masih rimbun dan udara dingin segar. Lebih nikmat, dijamin.

Di  kawasan air panas alam ini terdapat curug meskipun tidak besar tetapi bisa menjadi pelengkap rekreasi. Curug tersebut adalah Curug Panoongan, berada masuk ke dalam lagi dari pemandian air panas. Setelah kita berada di dalam areal pemandian alam apabila hendak ke lokasi curug dengan mengikuti jalan setapak menyelusuri tebing. Jalan melewati belukar kurang lebih 1 km mencapai lokasi curug. Biasanya hari sabtu-ahad banyak pengunjung sehingga kita tak perlu khawatir tersesat.


Curug Panoongan itu sendiri merupakan aliran air yang keluar dari celah batu memancar sehingga kesannya seperti keluar dari tempat persembunyian. Dari sebab itulah disebut panoongan yang dalam bahaasa Sunda berarti tempat ngintip. Airnya yang keluar langsung jernih dan dingin.
 Disarankan lebih baik menikmati air curug ini sebelum berendam di air hangat. Terasa sekali sensasinya. Adanya dua jenis air yang berbeda suhu termasuk jarang, sebab biasanya di tempat lain seperti di Cipanas Garut, Sangkanhurip Kuningan dan Ciater Subang hanya terdapat air panas saja. Sedangkan di Cipanas Galunggung, kita bisa menikmati air hangat dan air dingin. Sungguh sayang kalau tidak dicoba.

2.        Kampung Naga
Kampung Naga merupakan perkampungan adat suatu kelompok masyarakat seperti halnya perkampungan adat Baduy. Lokasi ini menjadi ikon wisata Kabupaten Tasikmalaya karena kekhasannya tersebut. Meskipun bernama Naga, tapi sama sekali tidak menunjukkan bentuk seperti masyarakat Tiongkok yang identik dengan naga. Asal-usul berdirinya kampung ini bermula dari perjalanan seorang tokoh bernama Sembah Dalem Eyang Singaparana, murid dari Sunan Gunung Jati yang ditugaskan menyebarkan agama Islam ke daerah Priangan. Dalam pengembaraanya, beliau singgah di tempat yang saat ini menjadi Kampung Naga. Makam Sembah Dalem Singaparana terletak di hutan di sebelah barat kampung dan dikeramatkan oleh warga.

Ada yang mengatakan kata naga berasal dari kata bahasa Sunda yaitu na- gawir atau berada di dekat jurang. Ya, memang Kampung Naga berada suatu lembah yang subur seluas kurang lebih 1,5 hektar.  Wilayah kampung adat ini terdiri dari perkampungan, pekarangan dan kolamm, sawah 2 kali setahun, hutan dan semak belukar. Hutan berada di sebelah barat Kampung Naga yang dijadikan hutan keramat oleh masyarakat. Perkampungan adat ini sebagian dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari gunung Cikuray, Garut.
Secara administratif, kampung ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi kampung tidak jauh dari jalan raya Garut -Tasikmalaya. Baik dari arah Garut maupun dari arah Tasikmalaya lokasi tersebut mudah dikenali. Di bagian depan kawasan wisata ini terdapat semacam gerbang dan kemudian turun menuju areal parkir.
Di tempat parkir ini tersedia beberapa warung. Beberapa orang menawarkan jasa pandu wisata. Tidak ada salahnya kita ambil jasa tersebut untuk memperjelas informasi mengenai Kampung Naga. Tidak ada karcis masuk kecuali biaya parkir. Masyarakat Kampung Naga menolak menjadikan kampung mereka sebagai obyek wisata, karena justru mereka ingin dijadikan tuntunan. Walau demikian untuk membantu ekonomi mereka tidak ada salahnya kita membeli barang – barang kerajinan mereka atau menggunakan jasa pemandu wisata. Barang – barang kerajinan rata – rata merupakan perabotan rumah tangga. Tidak mahal dan juga bagus – bagus, jadi pantas kok dijjadikan kenang –kenangan dari Kampung Naga. 

Selanjutnya kita harus menuruni tangga (sunda: sengked) yang sudah ditembok sampai ke tepi sungai Ciwulan sejauh 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat yang sedikit berkelok. Jalan menuju perkampungan di dasar lembah terlebih dahulu kita melewati kelompok rumah yang dihuni oleh masyarakat adat. Setelah lewat areal perumahan itu kita akan disajikan pemandangan indah yaitu sawah, kolam dan kelompok pemukiman dengan bentuk tradisional.





Jumlah penduduk di Kampung Naga dipertahankan sekitar 300 orang.  Bangunan yang ada terdiri dari perumahan tradsional, balai pertemuan, satu mesjid dan satu bumi ageung atau rumah adat. Sebenarnya jumlah masyarakat Kampung Naga sudah banyak yang merantau tinggal di luar Kampung Naga seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya dan lain-lain. Mereka yang bertempat di luar Kampung Naga, masih tetap terikat oleh adat Naga dan setiap penyelenggaraan upacara adat mereka datang ke kampung untuk berziarah ke makam keramat. Namun mereka tidak terikat lagi oleh ketentuan adat seperti membuat rumah panggung dan aturan lainnya.
Daya tarik Kampung Naga selain keindahan lingkungan sekitar yang indah dan masih asri juga adat budaya setempat yang berbeda dengan masayarakat sekitar. Hal ini menjadi magnet bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Meskipun tidak ada atraksi khusus untuk menyambut atau menghibur para wisatawan, tetapi keseharian hidup mereka yang tidak terganggu dengan kehadiran wisatawan sudah menjadi hal yang menarik. 


3.        Situ Sangiang Cibalanarik
Masyarakat Tasikmalaya tidak perlu bingung mencari tempat wisata karena banyak pilihan yang letaknya tidak jauh dari kota. Salah satu tempat wisata yang dekat dengan Kota Tasikmalaya dan Singaparna (ibukota Kabupaten Tasikmalaya) adalah Situ Sangiang. Objek wisata Situ Sanghiyang meliputi sebagian wilayah Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan Kecamatan Tanjungjaya. Situ yang luasnya ± 37 Ha, jaraknya 25 kilo meter dari pusat kota Tasik dengan akses mudah dijangkau.


Untuk menuju tempat ini kita mengambil jalur dari kota Tasikmalaya ke arah Cipatujah. Persis selepas dari jembatan sungai Ciwulan, yang merupakan batas Kota dengan Kabupaten Tasikmalaya, terdapat jalan ke arah Cibalanarik. Di simpang tersebut juga terdapat plang petunjuk arah ke lokasi Situ Sangiang. Setelah itu kita tinggal mengikuti jalan hingga simpang mulut jalan desa yang ditandai dengan semacam gapura sebagai tanda petunjuk ke lokasi wisata. Hanya sayang jalan desa ke tempat wisata tersebut sempit dan padat pemukiman.
Danau atau Situ Sanghiyang yang luasnya sekitar 37 Ha, mempunyai keindahan yaitu airnya bening dan alam sekitarnya yang rindang. Air danau tersebut menurut masyarakat setempat tidak lekas surut pada musim kemarau. Tidak cuma panorama alam yang indah tetapi juga di lokasi tersebut terdapat situs sejarah yaitu petilasan Prabu Linggawastu, yang merupakan bagian dari sejarah Kerajaan Galuh. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti kuno di kebun penduduk tidak jauh dari danau.



Keindahan Situ Sanghiyang begitu mengesankan. Lingkungan sekitar yang masih asri hijau memberi kesan damai, sejuk. Keheningan yang terpancar dari danau dan lingkungan sekitarnya begitu meresap menimbulkan rasa ingin berdiam sejenak. Ya, memang danau ini sangat cocok untuk pengunjung yang ingin mencari ketenangan.
Sekitar danau sudah ditata sedemikian rupa berupa taman, jogging track dan bibir beton pada sebagian pinggir danau. Fasilitas lainnya adalah musholla, tempat parkir dan beberapa tempat istirahat. Semua itu merupakan fasilitas yang disediakan Pemkab Tasikmalaya, dan kita hanya perlu membayar retribusi masuk sebesar Rp. 3.500 per orang dan biaya parkir.

4.        Situ Cibeureum Bantarkalong
Situ ini semula hanya situ kecil karena sebagian arealnya dipadati tumbuhan eceng gondok dan mengalami pendangkalan. Setelah diadakan restorasi oleh Pemkab Tasikmalaya, Situ Cibeureum menjadi lebih luas dan tampak lebih indah. Hal ini kemudian secara perlahan menarik pengunjung untuk mampir di tempat ini. Apalagi di atas danau, di batas jembatan terdapat warung sate sapi yang enak dan empuk. Sambil makan sate menikmati pemandangan situ yang lumayan indah.



Situ Cibeureum berada di wilayah Desa Simpang, Kecamatan Bantarkalong. Apabila kita dari Tasikmalaya menuju Cipatujah, selepas simpang Pamijahan kita akan melalui jembatan yang dibawahnya adalah Situ Cibeureum. Sebenarnya Situ Cibeureum merupakan cekungan atau embung yang dijadikan penampungan air irigasi. Luas Situ Cibeureum sekitar 10 hektar merupakan andalan penduduk untuk irigasi dan menangkap ikan. Aktivitas masyarakat untuk menangkap ikan cukup ramai disana. Adanya jaring ikan dengan sistem angkat memberikan pamandangan tersendiri.


Apabila tempat wisata ini digarap lebih serius akan lebih mendatangkan pengunjung. Lokasinya yang berada di sisi jalan sangat menggoda pengunjung untuk mampir. Menurut penuturan penduduk sudah banyak rombongan warga dari berbatgai daerah sengaja datang ke lokasi tersebut untuk sekedar santai menikmati kesejukan udara di pinggiran situ sekaligus memancing.


5.        Talaga Denuh
Kabupaten Tasikmalaya merupakan wilayah yang banyak memiliki situ atau talaga. Apabila sebelumnya diinformasikan situ yang letaknya mudah diakses, maka obyek wisata satu ini tempatnya terpencil. Tempat tersebut adalah Talaga Denuh. Secara administratif Talaga Denuh berada di Kampung Daracana, Desa Cikuya, Kecamatan ­­­­­Culamega. Persisnya, posisi Talaga Culamega berada pada perbatasan antara Kecamatan Bojonggambir dengan Kecamatan Culamega yang dibatasi secara alami oleh aliran Sungai Cipatujah. Letak Situ Denuh yang hanya berjarak kurang lebih 16-20 Km dari pesisir Selatan Tasikmalaya menjadikan udara disini sedikit hangat.
Lingkungan di sekitar lokasi berupa perbukitan terjal dengan jurang yang cukup dalam menambah keelokan pemandangan. Di kaki bukit di sekitar Situ Denuh terdapat sungai yang mengalir yaitu Sungai Cisenggong, yang merupakan anak cabang Sungai Cipatujah. Penduduk setempat sering menyebutnya Sungai Cipatujah. Sungai Cisenggong kemudian bergabung dengan Sungai Cipalu menjadi satu aliran yaitu Sungai Cipatujah yang bermuara di Pantai Cipatujah di pesisir Selatan Kabupaten Tasikmalaya. Hulu Sungai Cisenggong berada disekitar Pasir Karang, salah satu bukit yang mengelilingi Situ Denuh. Talaga Denuh dikelilingi Pasir Gunungputri di sebelah Barat dan Pasir Cikudakeling di sebelah Timur serta areal pesawahan Kampung Daracana dan Sungai Cisenggong di sebelah Selatan.




Perjalanan menuju Talaga Denuh adalah dari Kota Tasikmalaya mengarah ke Cipatujah. Setelah melewati Bantarkalong sebelum memasuki perkebunan karet terdapat simpang jalan menuju Kecamatan Culamega. Masyarakat menyebutnya simpang Darawati. Selanjutnya terus masuk mengikuti jalan desa dengan kondisi buruk hingga desa terakhir yaitu Desa Cikuya. Mengapa harus berjalan kaki, karena perjalanan selanjutnya akan banyak melewati medan yang berat yang tak mungkin dilalui oleh mobil atau motor biasa.
Dari Desa Cikuya perjalanan akan masuk wilayah Desa Nangelasari, Desa Genteng, Desa Bojongsari, Kampung Daracana dan terakhir Situ Denuh. Sebaiknya banyak bertanya kepada warga setiap menemukan persimpangan jalan supaya waktu tidak terbuang mencari jalan. Pada umumnya warga yang kita temuii sudah mengetahui Talaga Denuh sehingga tidak akan sulit untuk meminta arahan jalan.
Ada saatnya jalan menurun hingga menyebrang aliran sungai yang cukup besar di dasar bukit dan kemudian jalan akan kembali datar dan menanjak lagi. Jangan khawatir tersesat, karena itu satu – satunya jalan. Pada saat kita berada di jalan setapak sebrang sungai menuju puncak bukit, kondisi jalan banyak tertutup pepohonan, terjal, dan bila salah melangkah akan langsung terjatuh ke sungai. Setelah menanjak, kita akan menyusuri jalan yang cukup datar menuju puncak bukit dan sedikit menanjak lagi, dan akhirnya tiba di Talaga Denuh, yang berada sedikit lebih rendah.
Suasana di Talaga Denuh sangat sepi, mengingat lokasinya jauh dari pemukiman. Mengingat aksesnya yang cukup sulit dan melelahkan, menjadikan Talaga Denuh tempat yang cocok untuk yang suka berpetualang di alam. Talaga Denuh juga tempat yang cocok untuk memancing karena cukup banyak warga yang memancing di Talaga Denuh.
Sekitar Talaga Denuh ternyata menyimpan peninggalan sejarah dan arkeologi yang berada tersebar di bukit-bukit yang mengelilingi Talaga Denuh. Situs tersebut terdiri dari tiga buah Situs dari batu, empat buah situs berupa Goa, beberapa benda cagar budaya, dua sumur kecil, serta makam keramat. Adapun situs-situs bersejarah tersebut adalah
Situs Tugu
Situs Balekambang
Situs Lemah Badong
Situs Goa Binuang
Situs Goa Potong Kujang
Situs Cikuda Keling
Situs Goa Pasir Leungit
2 buah sumur kecil
Makam Prabu Batara Karang
10. Situs Pasir Karang
11. Kikis Kampung
12. Batu Lumpang 1 (Sang Hyang Lulumpang)
13. Batu Pangcalikan
14. Batu Lumpang 2 (Sang Hyang Lulumpang)
15. Batu Bedil
16. Padepokan
17. Artefak koleksi penduduk

(Sumber : https://journesia.com/story/situ-denuh-kisah-sejarah-tidak-tertulis/)


6.        Situ Cilangla Taraju
Situ kecil yang luasnya sekitar 2 Ha ini berada di dalam areal perkebunan teh Taraju. Meskipun luasnya tergolong kecil, tetapi karena berada di antara kebun teh menimbulkan keindahan tersendiri. Masyarakat banyak memanfaatkan untuk sekedar istirahat sebelum melanjutkan jelajah kebun teh dan ada juga yang memancing.




Akses menuju tempat ini adalah dari jalan raya Singaparna – Garut masuk ke simpang Taraju. Selanjutnya kendaraan kita arahkan menuju kebun teh Taraju, tepatnya di wilayah Kampung Cilangla, Desa Raksasari, Kecamatan Taraju. Sampai di Kampung Cilangla kita menaruh kendaraan dan berjalan kaki hingga permukiman terakhir. Sebelum menuju areal perkebunan teh Sambawa, disitulah lokasi Situ Cilangla. Sebenarnya selain Situ Cilangla, terdapat beberapa tempat untuk dikunjungi yaitu Kawasan Cagar Budaya yang terdiri dari Situs Kaputihan di Desa Purwarhayu, Situs Cianiwung, Situs Semah Guriang, Gua Cipalasari, dan Curug Cipalasari.

7.        Danau Lemona



Danau Lemona merupakan danau buatan yang terletak di lingkungan rumah makan Lemona. Pemilik rumah makan ini adalah pengusaha roti Lemona yang terkenal di Tasikmalaya. Bagi yang akan menuju ke daerah Salopa, Cikatomas dan perlu istirahat, tempat ini cocok untuk sekedar melepas lelah sambil menyicipi menu restoran. Tempat ini tidak jauh dari simpang menuju Salopa – Cikatomas. Penataan danau dan pondok – pondok makan yang apik membuat pengunjung akan betah dan tentunya pasang aksi berfoto ria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar