Kamis, 15 Juni 2017

Jelajah Alam di Kabupaten Tasikmalaya-3

1.        Curug Badak dan Curug Hanoman
Curug Batu Hanoman
Disebut Batu Hanoman karena aliran airnya yang keluar dari atas hingga ke bawah seperti buntut Hanoman, tokoh kera di dunia pewayangan. Curug ini berada satu kompleks dengan Curug Badak Sukasetia di sebuah wana wisata. Tepatnya berada di wilayah hutan milik Perhutani, sedangkan pengelolaan tempat wisata oleh Perhutani bekerja sama dengan Pemerintah Desa setempat. Secara administratif, wana wisata ini berada di wilayah Desa Sukasetia, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.


Jalan menuju kompleks curug ini adalah melalui jalan baru Ciawi - Singaparna. Tiba di persimpangan menuju ke Desa Kiarajangkung kita masuk ke jalan tersebut hingga pertigaan menuju Desa Kudadepa. Kondisi jalan sudah berupa aspal yang cukup baik sampai ujung jalan aspal di lingkungan hutan pinus. Mobil tidak bisa terus ke lokasi wana wisata sehingga cukup parkir di hamparan rumput. Sedangkan motor bisa terus hingga lokasi yang tidak jauh lagi tetapi kondisi jalan sudah berupa jalan tanah.



Wana wisata Curug Badak cukup tertata rapi. Terdapat tempat parkir dan beberapa warung minuman. Masuk ke dalam wana wisata dikenakan biaya masuk yaitu Rp. 5.000 per orang. Jalur pertama yang disinggahi adalah menuju Curug Batu Hanoman melalui jalan setapak.Jalan setapak telah dibuat cukup nyaman dan masih relatif datar dengan sesekali bergelombang. Hanya berjarak 400 m kita sudah sampai di Curug Batu Hanoman. Lumayan indah pemandangan sekitarnya. Sedangkan aliran airnya meskipun tidak terlalu deras tapi cukup enak bermain - main di sekitarnya.

Curug Badak
Curug Badak sepertinya nama umum dan banyak dijumpai. Di Tasikmalaya mungkin sekitar 4 curug yang memiliki nama Curug Badak. Curug ini belakangan populer karena berada dalam kompleks wana wisata yang tertata baik sehingga mengundang wisatawan mengunjunginya. Disamping itu pemandangan curug yang indah karena tinggi dan deras semakin membuat terkesan.
Seperti diceritakan sebelumnya, Curug Badak satu kompleks dengan Curug Batu Hanoman. Hanya saja ketika di tempat istirahat di hutan pinus, jalan menuju ke Curug Badak terpisah dari jalur menuju Curug Batu Hanoman. Terdapat plang sederhana mengarah ke Curug Badak. Nah, trekking kali ini benar - benar menguras tenaga. Hanya sedikit jalan relatif datar, kita langsung menuruni jalan curam menurun dan diselingi jalan berbentuk tangga. Sangat curam dan terus ke dalam hingga lokasi curug. Ini akan melelahkan dua kali lipat nanti pada waktu pulang. Jangan paksakan untuk lanjut kalau nafas sudah hampir putus...

Sampai di lokasi curug kita benar - benar merasakan kemegahan curug karunia Allah SWT yang sangat indah. Sekilas mirip Curug Ciparay tetapi lebih kecil. Curug Badak diperkirakan tingginya 50 m. Meskipun demikian aliran airnya masih sangat deras. Pengunjung disarankan jangan melewati pembatas. Banyak batuan licin, sehingga bila terpeleset dan terantuk batu besar akan beresiko besar. Selain itu jangan langsung bermain tepat di bawah pancuran Curug Badak karena jatuhan airnya sangat deras sehingga beresiko menimbulkan cedera.


Dekat Curug Badak ada curug lagi yang lebih rendah dengan ketinggian sekitar 40 m dan alirannya yang tidak sederas  Curug Badak. Penduduk setempat ada yang memberi nama Curug Kembar. Kdua curug tersebut dari kejauhan dengan medan sekelilingnya yang masih ditumbuhi pepohan membuat kita terpesona dengan pemandangan indah tersebut.

2.        Curug Batu Blek
Ingin menjajal kemampuan fisik dan mental sekaligus menikmati segar dan indahnya pemandangan, maka jalan - jalanlah ke Curug Batu Blek. Disebut Curug Batu Blek atau sering disingkat dengan Curug Blek karena dinding batu tempat keluarnya air curug adalah susunan batu - batuan yang relatif berbentuk persegi berwarna hitam mengkilat. Bentuk persegi itu mengingatkan orang pada kaleng krupuk persegi atau blek. Dengan dua aliran curug yang cukup deras ditambah dengan dinding seperti batu blek membuat curug ini terlihat indah dan memberi kesan.




Secara administratif Curug Blek berada di wilayah Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong.Untuk mencapainya kita masuk ke jalan raya Singaparna - Ciawi. Ketika sampai di wilayah Kecamatan Cisayong, tanyakan ke penduduk simpang jalan Cipeuteuy dan terdapat pos ojek .yang menuju lokasi. Mula - mula jalan masuk masih berupa jalan aspal jelek, lalu masuk ke perkampungan dengan jalan semen.
Perjalanan selanjutnya mulai masuk jalan sempit.Perkampungan mulai jarang dan lebih banyak tanah sawah.Pada akhirnya mobil sebaiknya parkir di ujung kampung, kalaupun dipaksakan masih bisa menanjak lagi dan berakhir di dekat persawahan. Perjalanan diteruskan dengan jalan kaki atau naik motor. Daerah sekeliling jalan berupa kebun campur yang ditanami tanaman keras serta lahan sayuran. Berikutnya adalah jalan tanah dan sempit melewati pematang – pematang sawah. Di ujung jalan setapak ini kita mengikuti jalur irigasi sederhana yang dibeton dan masuk ke dalam hutan belukar.


Curug Handap
Disinilah kita benar - benar diuji fisik dan mental karena cukup jauh yaitu 1,5 km hingga ke lokasi curug. Akhirnya sampailah juga di curug yang dimaksud. Mula - mula kita temui sungai agak lebar tetapi sedikit airnya. Di ujung sungai terdapat sebuah curug yang tidak tinggi dan aliran airnya tidak begitu deras. Curug yang pertama kita lihat ini adalah Curug Handap yang merupakan bagian dari aliran Curug Blek yang berada di atasnya. Meskipun tidak sebesar Curug Blek, curug ini lumayan indah karena meliuk keluar dari batuan besar. Bolehlah kita beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga setelah perjalanan melelahkan. Nah, sekarang kita naik ke atas menuju Curug Blek, tinggal menaiki trap tangga beton. Harus hati – hati karena lumayan licin karena basah oleh cipratan air. Akhirnya sampailah kita ke Curug Blek.

  


Curug Batu Blek

Curug Batu Blek memang tergolong rendah, sekitar 10 m, tetapi pancuran airnya deras. Airnya sangat dingin dan segar, rasanya kalo minum langsung dari pancurannya lebih nikmat dari air minum kemasan. Kolam tempat jatuhnya air tidak begitu dalam dan nyaman untuk dipijak karena dasarnya adalah batuan bulat. Disarankan tidak menyambut langsung jatuhnya air karena sangat deras yang efeknya seperti menerima beban puluhan kilogram. Lebih baik di cipratan airnya saja, dan itu juga sudah membuat segar di badan. Usai kita puas mandi dan berfoto - foto, kita pulang meninggalkan curug.
Sebenarnya masih ada curug yang juga cukup indah dan jernih. Curug ini adalah Curug Oni. Bila kita ingin melanjutkan perjalanan ke curug ini, kita masuk lagi ke dalam dari Curug Blek. Trek perjalanan ini benar – benar sulit karena belum ada jalan jalan setapak dan menerobos hutan belukar yang cukup lebat. Kurang lebih sekitar 1,5 km dari Curug Batu Blek, kita sampai di lokasi Curug Oni. Curug dengan ketinggian sekitar 30 meter ini menawarkan pemandangan yang benar2 asri karena letaknya di tengah – tengah hutan dan sudah pasti airnya seger banget, dingin sama seperti Curug Blek. Disebut Curug Oni karena mungkin ada tokoh lokal yang menemukan curug ini. Sebaiknya kalau ingin menuju curug ini setelah dari Curug Blek masih ada sisa tenaga dan perbekalan. Dan jangan lupa waktunya masih cukup karena kalau sudah sore kemungkinan bisa bermalam di jalan.

3.        Curug Bunar
Berada di kaki Gunung Cakrabuana tepatnya di Kampung Bunar, Desa Sukapada, Kecamatan Pagarageung. Akses jalan menuju Curug Bunar adalah dari jalan utama Bandung - Tasik, ambil simpang jalan pamoyanan ke arah Kecamatan Pagarageung dengan jalan berupa jalan aspal mulus. Selanjutnya masuk ke perkebunan teh Kampung Bunar, Desa Sukapada dengan kondisi jalan sempit dan merupakan jalan aspal terkelupas bercampur batu serta dengan kemiringan cukup terjal. Jalan tersebut masih layak untuk dilalui kendaraan roda 4, hanya perlu kondisi kendaraan yang prima.



 Jalan terakhir berupa tanjakan curam hingga batas akhir kampung. Sepanjang jalan mendekati batas akhir kanan kiri jalan berupa kebun teh. Perkebunan teh seluruhnya merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola oleh KUD setempat. Di perkampungan terakhir kita titipkan kendaraan roda 4 maupun roda 2 karena berikutnya kita akan melalui jalan setapak di dalam kebun teh.
 Kebun teh langsung menyambut kita dengan suasana yang sejuk segar dan pemandangan luar biasa. Tidak seberapa jauh kita melangkah, kita akan disuguhi pemandangan yang indah yaitu lapangan rumput yang cukup luas dengan sekitarnya adalah kebun teh. Lapangan tersebut sering digunakan untuk lokasi kemah sekolah di sekitar kecamatan. Tetapi memang lokasi ini patut dipuji dan tidak kalah bagus dengan camping ground yang dikelola swasta, apalagi sekitarnya adalah kebun teh rakyat.




Jalan menuju curug lumayan agak berat karena medan naik turun dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km. Ketika sampai di Curug Bunar, kita akan dibuatnya terpesona. Curug ini terdiri dari 2 tingkat. Tingkat pertama berupa curug dengan ketinggian sekitar 10 m. Di curug inilah yang paling enak untuk mandi dan menikmati guyuran air curug. Sedangkan di curug kedua dengan keetinggian sekitar 20 m masih bisa juga untuk dinikmati kesegaran airnya tetapi harus hati- hati karena batuan cukup licin. Sekali jatuh cukup fatal akibatnya karena langsung ke aliran curug berikutnya. Tetapi kedua tingkat curug tersebut sangat segar sekali dan tidak ada salahnya menyicipi pancuran curug.

4.        Curug Cibadak – Gede Bangkong
Sebenarnya Curug Gadog Bangkong, Curug Cibadak dan Curug Batu Blek (Curug Blek) berada dalam satu wilayah Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong. Hanya saja Curug Blek diakses dari jalan yang berbeda.Sedangkan untuk 2 curug lainnya diakses dari simpang jalan ke Desa Santana Mekar, dari jalan Singaparna - Ciawi.



Bila berkendaraan roda 4 mobil diparkir di perumahan sebelum tanjakan tinggi.Jalan menuju bukit dengan tanjakan tinggi berupa jalan semen.yang hanya cukup untuk motor. Jarak tempuh dari tempat menaruh mobil hingga lokasi curug sekitar 2,5 km. Apabila menggunakan motor bisa sampai mendekati curug. Namun untuk itu harus berhati - hati karena jalan sempit dan tepinya adalah jurang yang dalam dan medannya curam.




Setelah menempuh perjalanan sampailah kita di shelter sederhana. Disini kita sudah bisa melihat Curug Gado Bangkong dari kejauhan, yang menunjukkan curug tersebut cukup tinggi dan besar. Untuk menuju curug kita kaki harus masuk ke aliran air (creeks) semata kaki karena tidak jalan tanah. Terasa dingin dan segar airnya. Tidak jauh, sekitar 50 meter sampailah ke Curug Gede Bangkong. Curug Gado Bangkong Mandi di sekitar jatuhnya air akan terasa sangat segar. Di tempat persis jatuhnya air cukup dalam sekitar 2 meter tapi kedalamannya bertahap.






Curug satu lagi adalah Curug Cibadak dengan jarak sejauh kurang lebih 1,5 km. Dari shelter kita terus naik ke atas bukit hingga menemui areal persawahan. Lalu mengikuti pematang besar menuju sebuah rumah.Dari rumah ini kemudian masuk ke daerah semak belukar dan turun sedikit.Tidak lama kita menjumpai Curug Cibadak.Curug ini merupakan sungai kecil yang mengalir dan kemudianjatuh tidak terlalu tinggi sekitar 10 m lewat sebuah batu besar.
Yang menarik adalah batu-batu besar yang licin dan hitam kontras dengan air sungai dan curug yang bening.Hanya untuk perhatian agar hati - hati di tempat yang tinggi karena umumnya bahaya terpeleset akan berakibat fatal.

5.        Curug Cikadu
Keberadaan curug ini tidak begitu populer meskipun letaknya relatif mudah dijangkau. Dari jalan utama Bandung-Tasik, tepatnya di simpang jalan menuju Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong. Jalan menuju ke desa tersebut masih berupa aspal yang terkelupas dengan lebar yang masih cukup dilalui oleh 2 kendaraan berpapasan. Kanan kiri jalan adalah didominsi oleh lahan pertanian dan perkampungan.




Secara administratif, Curug Cikadu berada di Dusun Cipurut, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten. Untuk menuju curug ini, apabila dari arah Tasikmalaya, maka letak lokasi tersebut setelah Ciawi dan sebelum Pamoyanan. Dari jalan raya masuk ke jalan desa dengan kondisi aspal baik. Kurang lebih 1,5 km kita akan menjumpai simpang jalan menuju Dusun Cipurut dengan plang kecil di sisi simpang jalan. Setelah itu jalan ke Dusun Cipurut lebih sempit tetapi masih cukup baik.



Letak curug ini tidak jauh dari jalan desa sehingga terlihat dari kejauhan. Persisnya di belokan dan tanjakan jalan dimana terdapat tanah kosong rerumputan bercampur batuan dengan bangunan irigasi. Curug Cikadu dengan ketinggian sekitar 40 m sebenarnya cukup indah. Sayang pada waktu pengambilan gambar di tengah musim kemarau yang panjang sehingga debit air tinggal sedikit. Namun dilihat dari dinding curug yang ada diperkirakan apabila musim hujan dengan debit air yang cukup besar, aliran air curug akan nampak seperti tirai air dan satu aliran yang lebih deras.

6.        Curug Cimanitin
Curug Cimanintin perlahan mulai dikenal orang sebagai tempat tujuan wisata alam yang menantang. Letak lokasi Cimanintin di Kampung Babakan Joho, Desa Tanjungsari, Kecamatan Salopa. Dari jalur Tasikmalaya masuk ke simpang jalan Salopa, terus jalan hingga bertemu simpang jalan menuju kampung Joho. Sampai di Kampung Joho pengunjung harus menitipkan kendaraan roda 4 maupun roda 2 karena merupakan ujung jalan pemukiman.




Mengingat jalan menuju curug melewati ladang, sawah, kebun dan semak belukar, disarankan kita menyewa seorang anak atau penduduk desa sebagai pemandu jalan. Anggap saja sedekah membantu mereka. Perjalanan menuju curug sekitar 3 km.




Seterusnya kita jalan kaki melewati sawah, kebun, tegalan dan belukar akhirnya sampai pada batu besar. Dari balik batu besar itulah terlihat curug yang kita cari dari ketinggian sekitar 80 m. Curug  Cimanintin berbentuk seperti tirai air yang cukup deras. Kita bisa bermain - main di bawah curahan air karena tidak begitu berbahaya dan kedalaman kolamnya sebatas perut. Airnya cukup jernih dan dingin. Sayang pengambilan gambar curug ini pada saat kemarau panjang sehingga tidak banyak air yang keluar. Tetapi hati sudah sangat puas, puas menempuh perjalanan yang menguji fisik, mental dan otak (mengatur strategi memilih jalan), puas memandang panorama yang luar biasa dan tentunya berhasil menemukan curug yang indah ini.

7.        Curug Cimedang dan curug – curug sekitarnya
Curug Cimedang berada dekat dengan Malaganti Center, sebuah padepokan budaya dan pesantren yang berada di Kecamatan Sariwangi. Secara administratif terletak di Kampung Malaganti, Desa Raharja, Kecamatan Sariwangi. Jalan menuju kecamatan tersebut melalui Singaparna baik dari arah bundaran atau alun – alun Singaparna atau dari arah jalan lingkungan sebelum masuk kota Singaparna. Jalan menuju Kecamatan Singaparna berupa jalan aspal mulus meskipun agak sempit. Perjalanan terus hingga Malaganti Center lalu dilanjutkan ke arah kebun campur masyarakat.



 Pada simpang pertama setelah Malaganti terdapat plang kecil yang mengarahkan jalan ke curug. Dari simpang kita terus dapat berkendara di atas jalan tanah pengerasan sampai ke tempat parkir. Dari tempat parkir kita berjalan kaki melalui jalan setapak yang sudah dirapihkan oleh masyarakat setempat. Daya tarik Curug Cimedang bagi pengunjung adalah alam sekitar curug yang masih asri sehingga memberi kesegaran. Selain itu air curug lumayan jernih dan deras. Mengenai bentuk curugnya yang hanya berketinggian kurang dari 10 m, adalah adanya rongga sehingga tampak unik. Sebelum curug terdapat pohon besar yang bagian akarnya berongga. Sering digunakan untuk menaruh sesajen untuk tujuan tertentu.





Sekitar Curug Cimedang menurut penduduk sebenarnya terdapat 2 curug lagi yang sementara diberi nama Curug Luhur 1 dan Curug Luhur 2. Hanya sayang lokasi curug - curug tersebut sulit dijangkau. Mungkin obyek yang cukup indah adalah Leuwi Nini, Leuwi adalah kata bahasa Sunda yang berarti lubuk atau kubangan besar. Nama Leuwi Nini karena letaknya di wilayah yang terpencil dan agak - agak mistis. Membutuhkan perjuangan melewati semak belukar dan kondisi medan naik turun. Sampai di Leuwi Nini kita mendapatkan suasana yang teduh, sejuk dan hening. Tidak ada salahnya kita berendam disini, menikmati dingin dan segarnya air. 
Curug Luhur 1 dari kejauhan



Leuwi Nini

8.        Curug Ciparay 1 dan Curing Ciparay 2
Letak curug ini adalah di Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang. Akses masuk adalah sebelum Singaparna terdapat jalan ke arah Sariwangi. Kita ambil jalan tersebut dan terus mengikuti jalan utama hingga sampai simpang jalan ke arah Cidugaleun. Di simpang kita belok kiri ke arah Cidugaleun. Kondisi jalan aspal mulus hingga mencapai jembatan yang baru diresmikan bulan Januari 2016. Tidak jauh dari jembatan kondisi jalan berupa aspal rusak.
Tiba di desa Cidugaleun terus jalan ke arah kampung Parentas. Sayangnya kondisi jalan buruk dan sempit. Di sekitar kampung tersebut terdapat plang kecil petunjuk letak Curug Ciparay. Di sekitar tempat itulah kita memarkirkan kendaraan roda 4 dan roda 2. Perjalanan ke lokasi pun  harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1,5 km dengan kemiringan yang cukup curam sehingga bakal menguras tenaga.

  

Jalan ke curug berupa jalan setapak dengan kondisi tanah keras. Turunan jalan cukup curam, jadi harus hati - hati terutama bila musim hujan karena kondisi tanah licin. Tidak lama kita turun sudah terlihat dari kejauhan Curug Ciparay. Ada sedikit gangguan yaitu terputusnya jalan setapak tapi masih bisa dilalui karena ada beberapa batang kayu sebagai jembatan penghubung. Sekitar perjalanan berupa hutan belukar. Tidak heran karena termasuk dalam kawasan hutan lindung di bawah pengawasan Perhutani.



Sampailah kita di Curug Ciparay. Sungguh suatu  pemandangan yang luar biasa. Di lokasi Curug Ciparay terdapat 3 aliran curug dengan ketinggian relatif sama yaitu sekitar 80 m. Yang paling besar adalah Curug Ciparay itu sendiri. Curug yang kedua berupa dua aliran curug  kembar yang curahannya tidak sederas Curug Ciparay. Karena curug tersebut belum diberi nama, mungkin sementara namanya Curug Ciparay 1 dan Ciparay 2. Satu curug lagi yang posisinya disamping Curug Ciparay adalah seperti lembaran air yang mengalir seperti saweran. Karena itu bisa juga disebut Curug Sawer.


 Curahan Curug Ciparay sangat besar. Dengan jatuh dari ketinggian sekitar 80 m dan debit air yang sangat besar tidak mungkin kita tepat mandi di bawahnya. Terbayangkan hantaman beban yang sangat besar akan berbahaya sekali. Bahkan kalau ada angin sepertinya aliran curug berjalan, yang sebenarnya hanya sebagian saja. Disamping itu dasar kolam yang berbatuan dan cukup dalam di atas 2  m akan berbahaya bagi pengunjung jika terhempas oleh jatuhan air ke dalam kolam. Sebaiknya kita menikmati  di pinggiran kolam curug di Curug Sawer atau Curug Kembar. Batu-batuan besar yang diselimuti lumpur dan lumut membuatnya menjadi licin untuk dilalui.

9.        Curug Cinila dan Curug Leuwi Hideung
Salah satu curug alam yang lokasinya mempunyai tingkat kesulitan tinggi adalah Curug Cinila. Curug ini ada juga yang menyebutnya Curug Meber. Terletak di Kampung Cingaloma, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, searah ke lokasi Curug Ciparay yang terkenal itu. Jalan yang mendaki ke arah Cidugaleun dengan jalan berbatuan lumayan menyulitkan laju kendaraan. Setelah melewati 2 perkampungan akhirnya kita sampai di jalan masuk menuju Cingaloma. Letak jalan tersebut di sebelah kanan yang hanya cukup dilalui kendaraan roda 2. Ada papan nama jalan desa Cingaloma yang kecil sehingga kita harus jeli melihatnya. Kendaraan roda 4 terpaksa parkir disini sedangkan kendaraan roda 2 bisa masuk hingga madrasah. Jarak dari jalan masuk ke lokasi curug sekitar 3,5 km sedangkan dari madrasah dimana motor diparkir sekitar 2,7 km. Perjalanan ke lokasi curug memutar dan menyeberangi sungai.



Arah perjalanan menuju lokasi curug berliku melewati sawah, tegalan, kebun, semak belukar sehingga harus banyak bertanya kepada penduduk. Sementara kondisi menanjak dan menurun dengan terjal di atas 45 derajat. Mungkin yang cukup mendebarkan adalah harus meniti jalan sempit yang hanya dapat dilalui 1 orang saja di pinggir jurang yang dalam. Jalan tersebut berdampingan dengan saluran irigasi. Berbahaya memang karena jurang tersebut nyaris tegak lurus dengan kedalaman di atas 100 meter. Sebaiknya bagi yang kondisinya lemah lewat parit tebing di sebelah kanan yang sebagian ada genangan air.






Setelah melewati daerah yang berbahaya kurang lebih 200 meter kita akan sampai daerah yang lebih aman dimana dari kejauhan kita akan melihat Curug Cinila. Tidak tinggi, hanya sekitar 5 meter tapi memancarkan air yang sangat deras dan jernih. Di sekitar curug terdapat juga aliran air yang keluar dari dinding tebing dan masuk ke hulu sungai dimana bergabung dengan aliran air dari Curug Cinila. Lingkungan sekitar yang masih asri ditambah dengan curug yang benar - benar deras membuat kita tidak sabar untuk mandi.
Sebenarnya di bagian atas Curug Cinila terdapat satu curug lagi. Nama curug tersebut belum resmi. Namun karena letaknya di dalam hutan maka disebut dengan Curug Leuweung Hideung. Kondisinya hampir sama dengan Curug Cinila yang tidak tinggi tetapi memancarkan air yang deras dan jernih. Jalan menuju kesana kurang lebih 500 meter berupa semak belukar.

10.    Curug Cipinaha
Curug Cipinaha berada di Dusun (Kampung) Sukasirna, Desa Malatisari, Kecamatan Gunung Tanjung. Akses  menuju kesana, dari kota Tasikmalaya ke Manonjaya kemudian ambil jalan ke arah Gunung Tanjung. Sampai di pasar Gunung Tanjung  kemudian belok kiri ke arah jalan Desa Cikembang kemudian Desa Poponcol dan terakhir jalan Desa Malatisuka. Kurang lebih jaraknya 7 km dengan kondisi jalan pertama berupa aspal lalu jalan semen yang keduanya dalam kondisi bagus.
Akhirnya kita sampai di simpang menuju Curug Cipinaha. Apabila menggunakan mobil, kita harus menitipkan sebelum jalanan turunan lalu menggunakan jasa ojek, dengan tarif Rp. 10.000. Motor bisa terus jalan hingga tempat parkiran motor. Bila ingin jalan kaki dari tempat parkir mobil kurang lebih perjalanan sejauh 2 km dengan jalan ekstrim menurun, lumayan nanti pulangnya akan sangat menguras tenaga.



Sampai di tempat parkir motor, kita berjalan kaki dengan mengikuti aliran sungai ke arah hingga lokasi curug. Tidak begitu jauh. Bagian awal curug berupa daerah berbatuan yang dialiri air dari arah curug. Di lokasi curug kita langsung menyaksikan megahnya Curug Cipinaha itu. Banyak pengunjung yang datang pada hari libur.
Di lokasi curug terdapat kolam 2 tingkat. Tingkat pertama yang paling luas dan dialiri jatuhan air curug dari kolam pertama. Di kola ini kita dapat berendam atau berenang karena cukup luas. Ada bagian yang cukup dalam yaitu sekitar 1,5 m sehingga harus hati – hati. Satu lagi kolam berada di atas kolam pertama yang merupakan cekungan tempat menampung jatuhnya air curug besar. Tidak ada akses ke sana kecuali harus merayap di dinding berbatu dengan tinggi sekitar 1 m yang lumayan licin. Berbahaya bagi yang tidak biasa memanjat tebing. Dan nanti untuk turun tiada lain kecuali terjun ke kolam. Nikmati sensasinya 







 Di sekitar curug sudah dibuatkan jalan setapak oleh penduduk menuju tempat curug. Terdapat juga 2 warung di sekitarnya. Sayang, pengunjung melupakan kebersihan sehingga banyak sampah berserakan baik di jalan maupun di aliran curug.

11.    Curug Cinunjang dan Curug – Curug Sekitarnya
Lokasi Curug ini berada dalam satu kecamatan dengan Curug Sawer dan Curing Aboh dari Tasikmalaya, yaitu Kecamatan Jatiwaras. Rute yang bisa di ambil ada dua arah yaitu : 1. Dari jalan arah Salopa yang berupa jalan aspal bagus hingga simpang jalan yang dikenal dengan pangkalan ojek Pasir Gintung yang menuju ke Jatiwaras. Rute lainnya adalah masuk dari daerah Cibalong kemudian belok kiri ke arah Bantar Payung hingga melintasi jembatan gantung di atas aliran sungai Ciwulan. Setelah itu kita menemukan jalan hotmiks hingga simpang menuju kampung Cinunjang dan berlanjut dengan jalan aspal berbatu.




Curug Cinunjang berada di Dusun Cinunjang, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwaras. Apabila telah sampai di daerah Cinunjang, kita menitipkan kendaraan. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, pematang sawah, ladang dan semak belukar. Jangan lupa banyak bertanya penduduk karena tidak ada jalur khusus ke curug. Meskipun demikian jalan menuju curug tidak seberapa jauh kurang dari 1 km.
Sampailah kita di Curug Cinunjang yang berada di sekitar pepohonan dan belukar. Cukup asri dan rindang. Curug Cinunjang ini  mempunyai ketinggian sekitar 40 meter dengan aliran air yang jernih dan lumayan deras. Kita dapat bermain air di kolam tempat jatuhnya air. Posisi jatuhnya air agak melebar tidak terkonsentrasi pada satu tempat sehingga lebih seperti saweran air meskipun dengan jumlah yang agak deras.



Curug Kancil
Bila ada anak – anak bolang (sebutan untuk anak – anak penduduk setempat yang suka main di alam bebas) kita bisa minta antar ke Curug Jawa. Hal tersebut karena jalan menuju kesana harus melalui sungai, semak belukar yang tak mungkin dikenali oleh bukan orang setempat. Belum lagi kalau kita pulang bisa – bisa tersasar. Dan yang paling penting adalah daearah cukup bahaya dengan tebing dan batuan yang licin.
Di perjalanan menuju Curug Jawa kita terlebih dahulu menemukan curug kecil yang oleh penduduk setempat dinamakan Curug Kancil. Meskipun pendek tetapi aliran airnya (yang berasal dari aliran Curug Cinunjang) lumayan deras. Letaknya yang berada di antara batuan dan semak belukar memberi kesan liar. Curug ini berada di pertengahan jalan menuju Curug Jawa.



Curug Jawa
Sampai di Curug Jawa kita benar – benar puas. Ya, puas karena petualangannya juga keindahan curug serta segarnya air. Tidak begitu tinggi, masih di bawah Curug Cinunjang, mungkin sekitar 30 m. Entah kenapa disebut Curug Jawa, tak ada yang bisa menjawab. Mungkin ditemukan oleh orang Jawa.

12.    Curug Citiis Padakembang
Tidak seperti curug lainnya, tujuan ke curug ini disamping menikmati pemandangan yang indah dan segarnya air curug, untuk yang berkeyakinan terhadap hal-hal berbau mistik maka disinilah tempatnya. Letak Curug Citiis di Desa Padakembang, Kecamatan Padakembang. Arah menuju kesana sama dengan jalan menuju ke kawasan wisata Gunung Galunggung. Simpang jalan menuju Desa Padakembang jauh sebelum tanjakan jalan ke Galunggung.





Kendaraan roda 4 tidak bisa masuk lebih jauh ke dalam. Sedangkan untuk motor harus dipastikan kondisi motor sehat dan pemotor harus cukup trampil melewati trek sempit dan tanjakan berliku. Bila tidak disarankan sewa ojek. Dari tempat parkir mobil hingga ke lokasi curug sekitar 3 Km.
Sumber foto : https://firdauusr.blogspot.co.id/2015/10/citiispadakembang.html
Curug Cittis memang standar untuk pemandangan curug. Tapi nilai lebihnya adalah airnya yang sangat segar dan dingin karena langsung dari sumber air gunung serta pemandangan sekitarnya yang indah dan alami. Selain itu sudah cukup lama curug ini menjadi semacam tempat titual atau istialh bahasa Sunda adalah pananyaan. Banyak orang mengalap berkah dengan air curug ini karena diyakini memiliki banyak khasiat. Hal itu juga dikaitkan dengan keberadaan makam Eyang Prabu Semplak Waja, Eyang Tajimalela dan Eyang Susuk Tunggal.
Lanskap sekitar perjalanan cukup indah, yang merupakan perpaduan antara hamparan sawah dan kebun rakyat. Sebelum tiba di curug kita akan menemukan sebuah rumah tradisional berbentuk unik.

13.    Curug Dengdeng Cikatomas
Curug Dengdeng Cikatomas memberkan pemandangan miniatur Niagara. Tebing jeramnya lebar, dengan debit air cukup deras. Jalur masuk ke curug ini adalah melalui jalur jalan Salopa - Cikatomas. Setelah pom bensin Cikatomas belok kiri ke arah Tawang. Kurang lebih 10 km sampai ke pengkolan jalan ke Desa Cogreng. Hanya ada secuil informasi yaitu papan kecil petunjuk lokasi. Jalan masuk ke Desa Cogreng berupa jalan makadam (jalan batu diperkeras). Untuk kendaraan roda 4 kita hanya sampai sekitar kandang ayam. Sedangkan untuk motor dapat terus hingga dekat sungai dengan catatan kondisi jalan sehabis hujan sangat lengket, sempit dan sedikit ada tanjakan.


Jalan kaki dari tempat parkir mobil hingga lokasi curug sekitar 2 km. Kondisi jalan berbatuan bercampur tanah. Ada sedikit tanjakan setelah melewati lebak (dataran rendah). Sekitarnya merupakan tanah pertanian lahan kering (tegalan) dan sedikit semak belukar. Ketika kita sampai di pinggir sungai tempat curug, kita harus turun melewati semak - semak hingga bertemu dengan sungai. Disinilah kita langsung menemui curug yang  megah terjun dari tebing tegak lurus seperti jeram Niagara. Ketinggian curug diperkirakan 30 m.


Kita bisa bermain - main air di bawah curahan air di tebing pertama. Air yang deras dan dingin begitu sampai di tubuh terasa sekali pukulannya. Airnya cukup jernih karena dasar di sungai atas adalah batuan sehingga tidak banyak lumpur yang terbawa. Untuk keamanan, mendekati jeram pada tebing kedua harus ekstra hati - hati karena batuannya cukup licin. Tergelincir akan segera terbawa aliran air dan jatuh ke dasar curug dari keringgian 50 m.




Curug Dengdeng terdiri dari 3 tingkatan. Tingkat yang pertama adalah dari sungai kemudian turun dari tebing pertama melewati jalan setapak semak - semak. Sedangkan untuk tingkatan di bawah berikutnya harus lebih susah lagi yaitu menuruni tebing berbatuan yang curam

14.    Curug Dengdeng Cipatujah dan Curug Caringin
Banyak orang salah kaprah dengan nama Curug Dengdeng Tasikmalaya. Orang merasa sudah mengunjungi Curug Dengdeng di Cipatujah atau Cikatomas, padahal di kedua tempat tersebut masing - masing ada Curug Dengdeng. Hal itu karena disamping namanya yang sama juga bentuk fisiknya sedikit mirip. Curug Dengdeng baik di Cipatujah maupun di Cikatomas sama - sama berbentuk seperti air terjun Niagara. Hanya tinggi tebing pertama di Curug Dengdeng Cipatujah lebih pendek. Waktu terbaik mengunjungi Curug Dengdeng Cipatujah dan Cikatomas adalah pada awal musim kemarau dimana air masih tersedia cukup banyak tetapi air jernih karena hujan sudah jarang sehingga tidak banyak erosi.


Secara administratif Curung Dengdeng Cipatujah berada di Kampung Caringin, Desa Cikawung Gading, Kecamatan Cipatujah. Selain melalui jalan darat ke Kampung Caringin, kita juga dapat mencapai Curug Dengdeng dari tebing terbawah melalui Sungai Cilangla dengan perahu. Baru setelah itu memanjat naik tebing untuk mencapai hulu curug. Keuntungan bila masuk dari sungai akan lebih luas pemandangan curug yang bisa dilihat. Sedangkan sungai yang mengalir di curug atas adalah Sungai Cikembang.




Akses menuju Curug Dengdeng dimulai dari jalan raya pantai selatan Cipatujah - Pangandaran. Berikutnya adalah simpang jalan Cikawung Gading yang berada dekat dengan kantor desanya. Kondisi jalan desa berupa jalan makadam atau batu pengerasan sehingga bisa dilalui kendaraan roda 4 dan 2. Jarak tempuh dari jalan raya hingga akhir jalan di Kampung Caringin sejauh kurang lebih 4 km. Kita bisa titipkan kendaraan di halaman rumah penduduk.
Perjalanan selanjutnya akan melewati hutan jati, sawah dan tegalan. Sebenarnya supaya lebih lancar kita sebaiknya menggunakan jasa pandu anak - anak karena tidak ada jalan setapak khusus ke arah curug jadi akan meraba - raba. Disamping itu keberadaan anak - anak sangat bermanfaat ketika kita hendak turun tebing ke tingkat curug di bawahnya karena hanya dengan batang yang diberi tatakan sehingga harus disangga. Selain itu ketika musim hujan air menutupi seluruh permukaan sungai sehingga kita tidak tahu tiba - tiba ada legokan dalam. Dan ini sangat berbahaya bila terpeleset akan terbawa arus dan jatuh dari ketinggian yang di bawahnya sudah menanti batuan besar. Iiihh..ngeri..





Kita bisa turun ke tebing selanjutnya melalui bagian yang kering. Disini hanya tersedia sebatang gelondong kayu yang sudah ditatah membentuk anak tangga. Amat sulit menuruni batang setinggi 2 m itu tanpa bantuan orang lain. Di tebing kedua, pemandangan curug tidak kalah indahnya. Tebing curug lebih lebar sehingga aliran air lebih deras. Di sisi tebing lainnya juga ada curug yang keluar dari batu-batuan. Ini  menambah indah di tebing kedua dan lebih asyik untuk bermain - main. Banyaknya curahan air di sekeliling areal curug membuat kita seakan - akan seperti di waterpark. Sekali lagi mengingat batu - batuan sedikit berlumpur sehingga harus hati - hati bila melangkah pada areal dekat dengan jurang. Sangat riskan bila terpeleset. Selebihnya...nikmati bermain air di Curug Dengdeng dan ber-selfie ria.



Masih ada satu curug lagi yaitu Curug Caringin. Lokasinya dari Curug Dengdeng arah pulang melalui jalan setapak menyimpang dari jalan pertama menuju Kampung Caringin. Hanya curug tunggal dengan ketinggian 20 m. Kita hanya bisa melihat dari awal jatuhnya curug di tebing. Bila ingin melihat bentuk curug dari bawah harus menuruni batu - batuan besar tapi licin. Agak berbahaya memang. Sesampainya kita di bawah hanya di bagian pinggir saja jadi tidak langsung berhadapan dengan curug. Tapi sudah lumayan indah.

15.    Curug Gedus
Salah satu curug yang mempunyai keunikan dan belum banyak didatangi wisatawan adalah Curug Gedus. Secara administratif Curing Gedus, berada di Dusun Bubuay, Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodong Hilir. ini merupakan bagian dari wilayah Tasik selatan dengan kecamatan berbatasan adalah kecamatan Taraju, Bantarkalong, Parung Ponteng dan Pamijahan. Jalan menuju Sodong adalah melalui jalan Singaparna – Taraju lalu tiba di persimpangan masuk ke arah Puspahiang – Sodong.
 Perjalanan menuju Sodong sudah berupa aspal bagus kecuali beberapa tempat yang berlubang dan sebagian tergerus oleh longsor. Waktu perjalanan kurang dari 2 jam hingga pasar Sodong. Setiba di pasar kita ambil jalan ke desa Sepat Nunggal dengan kondisi jalan yang baru di beton pada sebagian jalan sedangkan sebagian lainnya berupa jalan pengerasan, dengan jarak kurang lebih 11 Km hingga tiba di lokasi tempat parkir kendaraan sebelum ke curug.

Curug Astana
Menjelang sampai di lokasi curug kita terlebih dahulu menemukan Sungai Cisodong yang cukup lebar dimana salah satu bagiannya sedikit patah seperti curug pendek. Orang setempat menyebutya Curug Astana, karena dekat dengan tempat pemakaman umum. Memang sih, agak hening kalau kita bermain di curug tersebut.



Akhirnya kita sampai di lokasi dekat dengan Curug Gedus. Menuju lokasi curug kita harus jalan kaki karena melewati semak belukar dan saluran irigasi. Di daerah pesawahan kita sudah dapat melihat dari kejauhan Curug Gedus. Curug ini merupakan aliran air dari sungai Cisodong. Tidak begitu sulit turun dari daerah persawahan ke curug meskipun harus rela berkotor ria. Hati – hati jangan sampai merusak tanaman milik penduduk, kasihan mereka susah payah menanam tapi kita enak saja merubuhkannya.
Saat kita sampai di lokasi curug kita aka terpesona dengan keindahannya. Tidak kalah dengan Curug Dengdeng, tetapi punya keunikan tersendiri. Bentuknya adalah melebar sekitar 50 meter seperti busur atau hampir setengah melingkar. Biasanya curug adalah garis horisontal tetapi ini agak melengkung. Sedangkan tinggi curug sekitar 20 meter.


Pada bagian curug pertama hanya ada curug dengan lantai bawah tempat jatuhnya air hanya setinggi tumit sehingga kita hanya dapat menikmati jatuhnya air. Sedangkan d bagian curug kedua terdapat kolam yang cukup dalam dan lebar. Tapi hati – hati berenang disini karena bagian dekat curug cukup dalam yaitu sekitar 2 m. Antara bagian pertama dengan bagian kedua dipisah oleh sungai kecil tapi cukup deras dengan batuan licin. Kedua bagian curug tersebut mempunyai panorama yang sama – sama indah.



Di bagian atas curug sesungguhnya merupakan sungai Cisodong yang hanya mengalir di bagian sisi. Rupanya di bagian atas terdapat tembok penampung air yang dimanfaatkan sebagai dam irigasi untuk mengairi areal pesawahan. Di bagian atas ini terdapat pemandangan unik yaitu jembatan besi gantung. Sangat indah untuk tempat foto. Setelah main di curug kita langsung mengunjungi jembatan gantung yang tepat berada sekitar 50 meter dari curug Gedus, berada sebelah atas dari sungai ini. Tertarik ke jembatan itu ? Kita harus naik dulu ke bagian sisi jembatan.



  Jembatan gantung tersebut hanya sesekali digunakan penduduk karena kondisinya selain tak layak juga sangat berbahaya. Untuk melewati selain butuh nyali juga kehati – hatian tingkat tinggi. Betapa tidak karena papan jembatan sudah banyak yang lepas dan dapat bergeser. Beberapa papan bahkan hanya berupa kulit pohon kelapa yang tipis. Lebih baik hanya coba di bagian ujung saja dan itupun jangan dimuat lebih dari 5 orang, khawatir roboh. Tetapi bagi yang siap dan fokus, gunakan kesempatan ini untuk merasakan ketinggian dengan kondisi yang sangat berbahaya. Sangat indah pemandangan dari atas jembatan ke arah sungai dan areal persawahan. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar